Bandar Sakong

cerita Sex Hot Polwan Cakep

cerita Sex Hot Polwan Cakep

cerita Sex Hot Polwan Cakep
www.LayarLendir.com

Majalah Bokep - Hari itu aku sangat buru-buru masuk kuliah. Dengan reflek aku langsung naik motor.jarak
antara kos dengan kampusku lumayan jauh. Tanpa aku sadari aku lupa mengenakan helem.
Setelah akhirnya dideket kampus, tiba-tiba aku dihentikan secara tiba-tiba oleh seorang
polisi bermotor. Dan ternyata setelah membuka helmnya, dia adalah polisi wanita yang
terlihatsangat cantik sekali wajahnya. Umurnya pun masih bisa dibilang muda. Mungkin
umurnya sektaran 29 tahunan. Dari tanda pengenalyang ada dibajunya aku mengetahui kalau
nama polwan cantik itu adalah Rini.

Setelah mencegatku lalu polwan cantik itu meminta surat-surat kendaraanku, namun sialnya
setelah aku merogoh kantong celananku, dompetku pun tak ada. Habislah sudah aku siang itu
aku diceramahi habis-habisan oleh polwan cantik itu. Aku hanya bisa terdiam dengan
menunduk. Sambil aku membuka-buka tas, ternyatastnk motorku ada didalam tasku, dan aku
langsung memberikan stnk itu kepada mbak polwan. Namun itu tidak bisa mengurangi
kesalahanku yang tidak memakai helm dan juga tidak mempunyai SIM.
Lalu tanpa kusadari, Letnan Rini mengambil sesuatu dari dalam sakunya, lalu dia
membungkukkan badannya untuk menulis sesuatu. Pada posisi nungging, aku lihat lagi bodynya
yang wuih selangit deh.. Tanpa kusadari, “adik kecilku” membengkak perlahan. Setelah itu
dia tegakkan badannya, terus berkata, “Eee.. saudara Boyy, Anda Kami tilang karena Anda
tidak memakai helm dan ngebut. Sidang akan dilaksanakan besok lusa. Jangan lupa Anda harus
hadir di persidangan besok. Oke..?”
“Tapi Bu, besok lusa Saya tidak bisa hadir, soalnya pada hari itu Saya harus mengantar
pacar yang akan diwisuda. Jadi Saya minta tolong sama Ibu, bagaimana dech baiknya agar
persoalan ini selesai..?”
Lalu dia bilang, “Do you have some money..?”
“Aduh, maaf sekali Bu, Saya sama sekali tidak membawa uang sepeser pun.” jawabku.
“Baiklah, kalau gitu SIM-mu Aku tahan untuk sementara, tapi nanti malam Kamu harus pergi
ke rumah Saya. Dan ingat..! Kamu harus datang sendiri. Oke..? Ini alamatku. Jangan lupa
lho, Aku tunggu jam 7 malam.” Dia pergi sambil mengerdipkan matanya kepadaku. Aku kaget,
tetapi happy banget, pokoknya senang dech.
Aku sampai di rumahnya sekitar jam 7 malam dan langsung mengetuk pintu pagarnya yang sudah
terkunci. Tidak lama kemudian, Ibu Rini muncul dari dalam dan sudah tahu aku akan datang
malam itu.

“Ayo Boy.., masuk. Aku sudah lama nunggu lho, sampai basah dan bau keringat pantatku duduk
terus dari tadi..” sapanya.
“Akkhh.. Ibu bisa saja..” jawabku.
“Sorry.., pintunya sudah digembok, soalnya Aku tinggal sendiri, jadi harus hati-hati.”
sambutnya.
“Oh.., jadi Ibu belum menikah too..? Sayang lho..! Wanita secantik Ibu ini belum
menikah..” kataku merayu.

“Aaa.. Kamu merayu ya..?” tanyanya.
“Enggak kok Bu, Saya berkata begitu karena memang kenyataannya begitu. Coba Ibu pikir, Ibu
sudah mapan hidupnya, cantik luar-dalam, dan sebagainya dech..” jelasku.
“Ehhkk.. Aku cantik luar-dalam, apa maksud Kamu, Aku cantik luar-dalam..?” tanyanya lagi.
“Waduh.., gimana ya, malu Aku jadinya..?” jawabku.
“Kamu nggak perlu malu-malu mengatakannya, Kamu ingin SIM Kamu kembali nggak..?”
ancamnya.”Eee.. sekarang gini aja, Kamu udah punya pacar khan..? Sekarang Saya tanya,
kenapa Kamu memilih dia jadi pacar Kamu..?” tanyanya lagi.

“Eee.. jujur aja Bu, dia itu orangnya cantik, baik, setia dan cinta sama Saya, that’s
all..”
“Kalau seumpama Kamu disuruh milih antara Saya dan pacar Kamu, Kamu pilih Saya atau pacar
Kamu sekarang..? Bandingkan aja dari segi fisik, Oke.. Saya atau Dia..?” tanyanya
memojokkanku.
“Eee.. Anu.. anu.. ee..,” aku dibuat bingung tidak karuan.
“Ayo.. jawab aja..! Kalau Kamu tidak jawab, SIM Kamu tidak kukembalikan lho..!” ancamnya
lagi.
“Waduhh.., gimana ya..? Ehmm.., baiklah, Saya akan jawab sejujurnya. Saya tetap akan
memilih pacar Saya sekarang.” jawabku.

“Wow.., kalau begitu dia lebih cantik dan semok dong dari Saya..?” jawabnya lirih.
“Eee.. bukan begitu Bu, Saya memilih pacar Saya walaupun Dia sebetulnya kalah cantik dari
Ibu, dan segalanya dech..!” jawabku. “Akhh.. yang benar, jadi Aku lebih cantik dan semok
dari Dia..?” tanyanya lagi.
“Jujur saja.., ya.. ya.. ya..” jawabku mantap.
“Ohh.., Aku jadi tersanjung dan terpikat dengan jawabanmu tadi..,” katanya girang, “Wah..
jadi lupa Aku, Kamu nonton TV aja dulu di ruang tengah, Aku mau ambil SIM Kamu di kamar..,
Oke..?” pintanya.

Lalu aku menuju ke ruang tengah, kuputar TV. Secara tidak sengaja, aku melihat tumpukan
VCD. Aku tertarik, lalu kulihat tumpukan VCD itu, lalu, ohh astaga, ternyata tumpukan VCD
itu semuanya film “XX”, aku terkejut sekali melihat tumpukan film “XX” itu. Sebelum aku
melihat satu-persatu, terdengar bunyi pintu dibuka. Lalu, ohh, aku terkejut lagi, Ibu Rini
keluar dari kamarnya hanya menggenakan daster pink transparan, di balik dasternya itu,
bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul bak gunung
Semeru. Begitu ia keluar, mataku nyaris copot karena melotot, melihat tubuh Ibu Rini. Dia
membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas.
“Kenapa..? Ayo duduk dulu..! Ini SIM Kamu.. Aku kembalikan..” katanya.
Wajahku merah karena malu, karena Ibu Rini tersenyum saat pandanganku terarah ke buah
dadanya.
“SIM Kamu, Aku kembalikan, tapi Kamu harus menolong Saya..!”
Ibu Rini merapatkan duduknya di karpet ke tubuhku, aku jadi panas dingin dibuatnya.
“Boy..?” tegurnya ditengah-tengah keheninganku.
“Ada apa Bu..?” tubuhku bergetar ketika tangan Ibu Rini merangkulku, sementara tangannya
yang lain mengusap-usap daerah “XX”-ku. “Tolong Ibu Rini ya..? Dan janji, Kamu harus janji
untuk merahasiakan hal ini, kalau tidak aku DOR Kamu..!” pintanya manja.

“Tapi.. Saya.., anu.., ee..”
“Kenapa..? Ooo.. Kamu takut sama pacar Kamu ya..?” katanya manja.
Wajahku langsung saja merah mendengar perkataan Ibu Rini, “Iya Bu..” kataku lagi.
“Sekarang Kamu pilih disidang atau pacar Kamu..?” ancamnya.

Dia kemudian duduk di pangkuanku. Bibir kami berdua kemudian saling berpagutan. Ibu Rini
yang agresif karena haus akan kehangatan dan aku yang menurut saja, langsung bereaksi
ketika tubuh hangat Ibu Rini menekan ke dadaku. Aku bisa merasakan puting susu Ibu Rini
yang mengeras. Lidah Ibu Rini menjelajahi mulutku, mencari lidahku untuk kemudian saling
berpagutan bagai ular. Setelah puas, Ibu Rini kemudian berdiri di depanku yang dari tadi
masih melongo, karena tidak percaya pada apa yang sedang terjadi. Satu demi satu
pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos tanpa sehelai bnenangpun seakan akan
menantang untuk diberi kehangatan olehku.
“Lepaskan pakaiannmu Boy..!” Ibu Rini berkata sambil merebahkan dirinya di karpet.
Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya.
“Ayoo.. cepat dong..! Aku udah gatel nich.. ohh..” Ibu Rini mendesah tidak sabar.
Aku kemudian berlutut di sampingnya. Aku bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan,
karena malu.
“Boy.. letakkan tanganmu di dadaku, ayo ohh..!” pintanya lagi.
Dengan gemetar aku meletakkan tanganku di dada Ibu Rini yang turun naik. Tanganku kemudian
dibimbing untuk meremas-remas payudara Ibu Rini yang super montok itu.
“Oohh.. enakk.., ohh.. remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang..” desahnya.

Dengan semangat aku melakukan apa yang dia katakan. Lama-lama aku jadi tidak tahan, lalu,
“Ibu.. boleh Saya hisap susu Ibu..?” Ibu Rini tersenyum mendengar pertanyaanku, dia
berkata sambil menunduk, “Boleh Sayang.. lakukan apa yang Kamu suka..” Tubuh Rini menegang
ketika merasakan jilatan dan hisapan mulutku yang sekarang mulai garang itu di susunya.

“Oohh.. jilat terus Boy..! Ohh..” desah Ibu Rini sambil tangannya mendekap erat kepalaku
ke payudaranya.

Aku lama-lama semakin buas menjilati puting susunya, mulutnya tanpa kusadari menimbulkan
bunyi yang nyaring. Hisapanku semakin keras, bahkan tanpa kusadari, aku menggigit-gigit
ringan putingnya yang ohh.

“Mmm.. nakal Kamu..” Ibu Rini tersenyum merasakan tingkahku yang semakin “Jozz” itu.
Lalu aku duduk di antara kedua kaki Ibu Rini yang telah terbuka lebar, sepertinya sudah
siap tempur. Ibu Rini kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangya.
“Ayo, sekarang Kamu rasakan memekku..!” ia membimbing telunjukku memasuki liang
senggamanya.

“Hangat, lembab, sempit sekali Bu..” kataku sambil mengucek kedalaman liang kenikmatannya.
“Sekarang jilat ‘kontol kecil’-ku..!” katanya.
Pelan-pelan lidahku mulai menjilat klitoris yang mulai menyembul tinggi sekali itu.
“Terus.. oohh.. ya.. jilat.. jilat. Terus.. ohh..” Ibu Rini menggerinjal-gerinjal keenakan
ketika kelentitnya dijilat oleh mulutku yang mulai asyik dengan tugasnya.
“Gimana.., enak ya Bu..?” aku tersenyum sambil terus menjilat.
“Oohh.. Boooy..” tubuh Ibu Rini telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang,
sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.

Lidahku semakin berani mempermainkan kelentit Ibu Rini yang makin bergelora dirangsang
birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanannya akan segera jebol. Dan aku
akan unggul 1-0, ee.. emangnya main bola. Lalu, “Oooaahh.. Booy..!”

Tangan Ibu Rini mencengkeram pundakku yang kokoh bagaikan tembok raksasa di China,
sementara tubuhnya menegang dan otot-otot kewanitaannya mulai menegang, dan
muncratlah‘lahar’Ibu Rini di mulutku. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang
telah kuberikan.

“Hmm.. Kamu sungguh lihai Booy.. Sekarang coba gantian Kamu yang berbaring..” katanya.
Aku menurut saja. Batang kejantananku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Ibu
Rini yang mulai mempermainkan senjata keperkasaanku.
“Wah.. wahh.. besar sekali. Oh my god.. Ohh..” tangan Ibu Rini segera mengusap-usap batang
keperkasaanku yang telah mengeras tersebut.

Segera saja benda besar dan panjang itu mulai berdenyut-denyut dan dimasukkan ke mulut Ibu
Rini. Dia segera menjilati batang kemaluanku itu dengan penuh semangat. Kepala
kejantananku itu dihisapnya keras-keras hingga aku jadi merintih keenakan.

“Ahh.. enakkee.. rekk..!” aku tanpa sadar menyodokkan pinggulku untuk semakin menekan
senjata keperkasaanku agar makin ke dalam mulut Ibu Rini yang telah penuh oleh batang
kejantananku. Gerakanku makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Ibu Rini.
“Ooohh Bu.. oohh.. mulut Ibu memang sakti.. ohh.. I’m coming.. ohh..”
Muncratlah laharku di dalam mulut Ibu Rini yang segera menjilati cairan itu hingga
tuntas.. tas.. tas.. plass.

“Hmm.. agak asin rasanya Boy punyamu.., tapi enak kok..” Ibu Rini masih tetap menjilati
kemaluanku yang masih tegak bagaikan tugu Monas di Jakarta, menara Piza di Italy, menara
Eiffel di Paris.

“Sebentar ya.., Aku mau minum dulu..” katanya setelah selesai menjilati batang
kejantananku.
Ketika Ibu Rini sedang membelakangiku sambil menenggak air putih dari kulkas. Aku melihat
body yang wuih dan itu ohh, pantat yang bulat. Aku memang suka pantat yang bulat dan
menantang. Aku tidak tahan cuma melihat dari jauh, lalu aku berdiri dan berjalan
menghampirinya, lalu mendekapnya dari belakang.

“Boy.. jangan nakal dong, biar Ibu minum dulu..!” katanya manja.
“Aku tidak tahan melihat pantat ibu yang bulat dan menantang itu.” kataku tak sabaran.
“Kamu suka pantatku, kalau gitu Kamu tentu mau kalau nanti pantatku mendapat giliran untuk
Kamu obok-obok, bagaimana Boy..? Mau ngobok-ngobok pantat Ibu..?” tanyanya.
Aku terima tantangannya. “Ohh.., memang benar-benar wuihh..” aku berkata sambil mengelus-
elus pantat Ibu Rini.

Lalu aku jongkok agar dapat jelas melihat, kusentuh lembut pantat itu dengan tanganku.
Terus kucium, kuelus lagi, kucium lagi terus kujilat, lalu kubuka belahan pantat itu.
Ohh.., terhampar pemandangan indah dengan bau yang khas, lubang yang sempit, lebih sempit
dari yang di depandan sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu yang lumayan lebat. Lalu kujulurkan
jari telunjukku ke lubang yang sempit itu. Waktu aku coba memasukkan jariku ke lubang itu,
terdengar jeritan kecil Ibu Rini.

“Boy.., jangan keras-keras ya, nanti sakit.. lho..”
Lalu aku mulai memasukkan step by step. Waktu jariku menembus lubang itu sepertinya
tanganku mau disedot masuk ke dalam.

“Lubang Ibu nakal juga ya, masa jariku mau dimakan juga..?”
“Akhh.. Kamu nakal dech.., ohh Boy.. coba sekarang Kamu jilat ya..?” pintanya.
Lalu kutarik jariku dari dalam lubang itu, lalu aku mulai menjilati lubang itu ehhmm..,
lumayan juga rasanya, asin-asin gurih.

Sementara itu, Ibu Rini terdengar merintih keenakan. Lama-lama aku tidak sabar, dan terus
kuberdiri dan tanpa basa-basi, aku langsung membalikkan badannya. Terus kulahap gundukan-
gundukan daging di dada Ibu Rini dengan nikmat. Sementara itu, Ibu Rini mulai mendesah-
desah dan menggelinjang. Kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam. Goyangan-
goyangan lidahku yang terus menjilati puting susu Ibu Rini yang tinggi dan lancip begitu
bertubi-tubi tanpa henti. Ibu Rini menggerinjal-gerinjal dengan keras.

“Aaahh.. uuhh.. uuhh..” desahan-desahan kenikmatan semakin banyak bermunculan dari mulut
Ibu Rini.

Geliat-geliatan tubuhnya semakin menjadi-jadi karena merasa sensasi yang luar biasa akibat
sentuhan-sentuhan mulut dan lidahku pada ujung syaraf sensitif di payudaranya. Urat-urat
membiru pun mulai menghiasi dengan jelas seluruh permukaan payudara yang super montok itu.

Masih dengan mulutku yang tetap berpetualang di dada Ibu Rini yang juga masih
menggelinjang, aku membopong Ibu Rini ke kamar. Kujatuhkan tubuh Ibu Rini di atas kasur
spring bed yang sangat empuk. Saking keras jatuhnya, tubuhnya yang aduhai itu sempat
terlontar-lontar sedikit sebelum akhirnya tergolek pasrah di atas ranjang itu. Setelah
itu, Ibu Rini tetelentang di kasur dengan kaki-kakinya yang jenjang terjulur ke lantai.
Tubuh bugilnya yang putih dan mulus beserta payudara yang montok dengan puting susu nan
tinggi yang teronggok kokoh di dadanya, memang sebuah pemandangan yang amat menawan hati.

Lalu aku berlutut di lantai menghadap selangkangan Ibu Rini. Kurenggangkan kedua kakinya
yang menjejak di lantai. Dengan begitu aku dapat memandang langsung ke arah
selangkangannya itu. Bulu-bulu kemaluan yang tumbuh di padang rumput tipis yang menghiasi
wilayah sensitif itu begitu menggelora nafsu birahiku. Aromanya yang segar dan harum
membuat nafsuku itu kian meninggi. Kudekatkan mulutku ke bibir Memeknya dan kujulurkan
lidahku untuk mencicipi lezatnya lubang itu. Tubuh Ibu Rini terlonjak keras ketika
kucucukkan lidahku ke dalam liang senggamanya. Kukorek-korek seluruh permukaan lorong yang
gelap itu. Begitu hebat rangsangan yang kubuat pada dinding lorong kenikmatan tersebut,
membuat air bah segera datang membanjirinya.

“Ooohh.. uuhh.. aahh..” terdengar rintihan Ibu Rini dari mulutnya yang megap-megap
setengah membuka.

Kemudian aku berdiri. Dengan tangan bertumpu ke atas kasur, kucoba mengarahkan ujung
penisku ke lubang Memek yang lumayan sempit yang tampak licin dan basah milik Ibu Rini.
Berhasil. Perlahan-lahan kuhujamkan batang kemaluanku ke dalam liang senggama itu. Tubuh
Ibu Rini berkejat-kejat dibuatnya merasakan nikmat penetrasi yang sedang kulakukan saat
ini.
“Aaahh.. oohh..” tak ayal jeritan-jeritan mengalir dari mulutnya.

Akhirnya batang keperkasaanku amblas semua ke dalam liang gelap yang berdenyut-denyut
milik Ibu Rini diiringi dengan jeritannya. Kenikmatan ini kian bertambah menjadi-jadi
setelah aku melakukan penetrasi lebih dalam dan intensif lagi. Gerakan memompa dari batang
kejantananku di dalam kemaluan Ibu Rini semakin kupercepat. Terdengar suara kecipak-
kecipak dan lenguhan kami berdua karena terlalu asyiknya kami bersenggama. Seiring dengan
tangan yang kembali meremas-remas perbukitan indah yang menjulang tinggi di dada Ibu Rini,
batang kejantananku terus melakukan serangan-serangan yang tanpa henti di dalam lubang
senggamanya yang bertambah kencang denyutan-denyutannya.

Memek memerah yang terus berdenyut-denyut dan amat licin akibat begitu membanjirnya
cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalamnya, terasa menjepit bnatang kejantananku.
Demikian sempitnya ruang gerak penisku di dalam lorong gelap itu, menjadikan gesekan-
gesekan yang terjadi begitu mengasyikkan. Ini merupakan sensasi sendiri bagiku yang
merasakan batang keperkasaanku seperti merasa diurut-urut oleh seluruh permukaan dinding
Memeknya. Mulutku pun tak henti-hentinya menyuarakan desahan-desahan kenikmatan tanpa bisa
dihalangi lagi.

“Oiihh.. Booy.. ohh..” Ibu Rini menjerit-jerit tidak karuan, sementara tubuhnya juga
melonjak-lonjak dengan keras.

Sekuat tenaga kuhujam-hujam penisku dengan lebih ganas lagi ke dalam liang senggamanya.
Rasanya hampir habis tenaga dan nafasku dibuatnya. Tetapi nafsu birahi yang begitu
menggelora tampaknya membuatku lupa pada kelelahanku itu. Ini dibuktikan dengan sodokan
kejantananku yang berusaha menusuk sedalam-dalamnya. Bahkan berkali-kali ujung batang
kejantananku sampai menyentuh pangkal liang tersebut, membuat Ibu Rini menjerit keenakan.

“Booy.. Booy.. Aku.. mau.. keluar..” Ibu Rini melenguh kencang.

Ia merasakan sudah tidak bisa menahan klimaksnya lagi. Akan tetapi, aku belum merasakan
klimaks sedikit pun. Langsung kutambah kecepatan genjotan-genjotan batang kejantananku di
dalam liang senggamanya. Begitu buasnya sodokan-sodokanku itu, membuat tubuh Ibu Rini
bergoyang-goyang hebat, dia merintih.. merintih.. dan merintih. Akhirnya saat yang
diharapkan itu tercapai. Aku melenguh panjang merasakan laharku muncrat, menyusul Ibu Rini
yang sudah terlebih dahulu memperoleh orgasmenya. Begitu nikmatnya orgasme yang kurasakan
itu sehingga membuat laharku bagaikan air bah menerjang masuk ke dalam liang senggama Ibu
Rini. Kami berdua mengejang kencang saat titik-titik puncak itu tercapai. Tapi kenapa
batang kejantananku tidak mau istirahat, dan masih terlihat perkasa. Dengan segera aku
berlutut di atas ranjang.

Kuminta Ibu Rini untuk berlutut juga membelakangiku dengan tangan bertumpu di kasur, jadi
dalam posisi doggy style. Kemudian Rini kudorong sedikit ke depan, sehingga pantatnya agak
naik ke atas, yang lebih memudahkan batang kejantananku untuk melakukan penetrasi ke dalam
lubang senggamanya. Setelah itu langsung kusodok kemaluan yang sekarang sudah terlihat
agak merekah itu dengan batang keperkasaanku dari belakang. Tubuh Ibu Rini terhenyak
hingga hampir terjungkal ke depan akibat kerasnya sodokanku itu, sementara mulutnya
menjerit keenakan. Dalam sekejap, senjata-ku itu seluruhnya ditelan oleh Memek itu dan
langsung menjepitnya. Jepitan liang senggama Ibu Rini yang berdenyut-denyut menambah
gairah birahiku yang memang sudah menggelora.

Dengan cepat, kutarik kejantananku sampai hampir keluar dari dalam liang senggamanya, lalu
kutusukkan kembali dengan cepat. Kemudian kutarik dan kusodok lagi, seterusnya berulang-
ulang tanpa henti. Doronganku yang keras ditambah dengan sensasi kenikmatan yang luar
biasa membuat Ibu Rini beberapa kali nyaris terjerembab. Namun itu tidak menjadi masalah
sama sekali. Bahkan sebaliknya, membuat permainan kami berdua menjadi kian panas.

Lalu, “Aah.. ah.. ah.. ah..” nafasku terengah-engah.

Kurasakan sekujur tubuhku mulai kehabisan tenaga. Tenagaku sudah begitu terkuras, tetapi
aku belum mau berputus asa. Kucoba mengeluarkan sisa-sisa tenaga yang masih ada semampuku.
Dengan sedikit mengejang, kugenjot batang kejantananku kembali ke dalam luabng
kenikmatannya sekuat-kuatnya. Ibu Rini pun tidak mau kalah, dia maju-mundurkan tubuhnya
dengan ganasnya. Akhirnya, Ibu Rini melenguh panjang, muncratlah lahar-nya, disusul
beberapa detik kemudian oleh kemaluanku.

Lalu secepat kilat kukeluarkan penisku dari dalam lubang kenikmatan Ibu Rini dan langsung
jatuh terkapar di kasur. Lalu, Ibu Rini langsung meraih batang kejantananku itu dan
dimasukkan ke dalam mulutnya. Ibu Rini mengocok penisku itu di dalam mulutnya yang memang
agak kecil. Namun Ibu Rini berhasil melumat batang keperkasaanku dengan nikmatnya.
Gesekan-gesekan yang terjadi antara kulit kemaluanku yang sensitif dengan mulut Ibu Rini
yang basah dan licin ditambah dengan gigitan-gigitan kecil yang dilakukan oleh giginya
yang putih karena pakai“Smile-Up Man”, membuat aku tidak dapat menahan diri lagi.
Muncratan-muncratan lahar kenikmatan yang keluar begitu banyaknya dari batang
keperkasaanku langsung ditelan seluruhnya, hampir tanpa sisa oleh Ibu Rini. Sebagian
meleleh keluar dari mulutnya dan jatuh membasahi kasur. Belum puas sampai disitu, ia masih
menjilati sekujur batang kejantananku sampai bersih total seperti sediakala. Bukan main!

Lalu kami berdua tergolek di atas tempat tidur dengan tubuh telanjang yang dibasahi oleh
keringat dan lahar kami. Kemudian aku tertidur. Setelah pagi harinya terbangun, kmai
mengulanginya lagi dengan fantasi Sex yang berbeda. Pagi itu ibu Rini mengajakku Untuk
melakukan hubungan Sex dikolam renang. Sungguh bahagianya hatiku mendapatkan sosok wanita
yang hyper Sex seperti ibu Rini Polwan Cantik Nan Jelita.-


Terimakasih Atas Kunjungan Anda.Jangan Lupa Selalu Berkunjung Kembali
supaya tidak ketinggalan Cerita cerita Dewasa Terbaru.

Jika Kamu Menyukai Postingan Ini, Share Ke Teman-Temanmu Di Facebook ya Pulsker!


CERITA SEX DEWASA | CERITA SEX TERBARUCERITA SEX HOT | NONTON BOKEP
cerita Sex Hot Polwan Cakep cerita Sex Hot Polwan Cakep Reviewed by Layar Lendir on Januari 28, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Bandar Sakong
Diberdayakan oleh Blogger.