Bandar Sakong

Cerita Sex Dewasa Venti Sang Mantan

Cerita Sex Dewasa Venti Sang Mantan

Cerita Sex Dewasa Venti Sang Mantan
www.LayarLendir.com

Majalah Bokep - Sebut saja namanya Venti. Perempuan biasa-biasa saja namun sangat menggairahkan. Masalah
ranjang Venti tak perlu diragukan lagi, dia sangat binal sekali. Kadang jika kondisiku
sedang tidak fit, Venti mengalahkanku hanya dalam beberapa ronde saja. Namun Venti juga
puas dengan penisku yang ukurannya sangat besar yaitu panjangnya 19cm dengan diameter 6cm.
begitulah sekilas tentang hubungan Sex ku dengan Venti yang sangat berkesan dalam hidupku
dan mungkin juga dalam hidup Venti.

Venti sudah kupacari sejak kami kuliah bersama hingga akhirnya dia meninggalkanku begitu
saja tanpa alasan yang jelas. Aku mencoba mencari tau tentang keberadaannya namun tak
kunjung juga ketemu sampai akhirnya aku putuskan untuk menikah dengan seorang wanita yang
dijodohkan oleh orang tuaku. Dalam pernikahanku aku dikaruniai 3 orang anak sampai
sebelumnya Venti kembali datang dalam kehidupanku yang sekarang.
Malam itu aku sedang makan berdua dengan istriku karena anak-anak sudah tidur. Aku
berusaha memanfaatkan waktu berdua dengan istriku ketika anak-anak sudah tidur. Namun
ketika sedang enak-enaknya ngobrol sambil makan dengan istriku, tiba-tiba HP ku berbunyi.
Aku lihat gak ada namanya, kemudian aku berpura-pura mengambil minum berniat mengangkat
telpon tadi. Dan “Jika masih ingat sama aku datanglah di wisma kamar nomer 9 sekarang, aku
tunggu” ucap seorang yang telpon. “Ini siapa??” tanyaku. “Pokoknya datang aja, nanti kamu
akan tau sendiri” katanya. Lalu wanita itu menutup telponnya.
Setelah wanita yang menelponku tadi mematikan telponnya, aku kembali di meja makan bersama
istriku, dan aku pun langsung minta izin untuk keluar karena ada pertemuan mendadak yang
diminta oleh bosku. Setelah aku menyakinkan istriku, akhirnya istriku percaya dan
mengijinkanku untuk pergi. Namun aku dipesan untuk pulang, tapi aku kembali berpesan, jika
harus menginap aku harus menginap dan kunci saja pintunya. Dan aku pun langsung beres-
beres dan langsung meluncur ke wisma kamar no 7. Di perjalanan aku mengingat suara manis
yang tadi telpon, aku sudah berpikiran kalau itu Venti, namun darimana dia mendapatkan
nomer telponku dan mengetahui keberadaanku. Aku bertanya-tanya karena aku dan Venti sudah
gak ketemu hampir 10 tahun. Setelah aku tiba dan menanyakan kamar Venti di Wisma itu, aku
lalu diantar oleh salah seorang pelayan laki-laki Wisma itu. Kamar Venti ternyata tidak
tertutup menunggu kedatanganku.
“Hei, jam berapa kamu tiba di kota ini dan ada urusan apa sampai ngingap segala di Wisma
ini. Nampaknya ada urusan penting yah? Kenapa tidak langsung ke rumah saja?” serentetan
pertanyaan itu aku lontarkan pada Venti ketika aku sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

Ia nampak kebingunan menjawabnya satu persatu, sehingga ia hanya tersenyum sambil
melambaikan tangannya ke arahku memanggilku masuk.

“Mari masuk Kak, aku sangat merindukanmu. Sudah lama kucari alamatmu dan ingin bertemu
denganmu, tapi baru kali ini aku sempat. Maklum daerah tempat tinggalku terlalu jauh dari
sini, sehingga sulit sekali kita saling bertemu” katanya sambil tersenyum seolah gembira
sekali.

Aku langsung duduk di tepi rosban yang dilapisi kasur empuk, sementara sambil ia teruskan
pembicaraannya, Venti berjalan ke arah pintu lalu menutup serta menguncinya dengan rapat
seolah ia tidak membiarkan aku kembali dengan cepat atau mungkin ia inginkan aku
menemaninya terus dalam kamar itu sampai segala urusannya selesai.
“Tadinya aku ragu dan takut meneleponmu karena jangan sampai istrimu marah dan curiga,
sehingga malah menghalangi pertemuan kita. Tapi tetap aku coba siapa tahu bisa berhasil,
ternyata betul berhasil” katanya sambil duduk sekitar 30 cm dari tempat di mana aku duduk.

“Akupun tadi kaget dan merasa takut ketahuan istri ketika kuterima teleponmu. Untung aku
masih bisa buat alasan yang bisa yakinkan dia” kataku menceritakan kegiatan kami di rumah
saat ia menelpon tadi.

“Kamu betul-betul bersifat ular dan masih licik seperti dulu. Kukira kamu sudah insaf dan
banyak berubah karena sudah beristri yang cantik, malah sudah punya 3 orang anak lagi.
Ternyata sifatmu tidak banyak berubah, meskipun usiamu sudah lanjut. Apa jadinya kira-kira
jika istrimu tahu soal pertemuan kita di wisma ini.

Aku tidak mau nanggung resikonya dan tidak tega melihat rumah tanggamu hancur seperti yang
kami alami saat ini” komentarnya panjang lebar sambil mencubit pinggangku lalu sedikit
bersedih, bahkan sempat keluar air matanya.
“Maaf Venti, aku tidak dapat dan tidak mungkin melupakan peristiwa bersejarah kita yang
penuh kenikmatan 20 tahun yang lalu itu. Sayang nasib yang memisahkan kita sehingga kita
tidak berjodoh. Tapi sudahlah semua itu adalah takdir yang harus kita terima. Sekarang
kita lupakan saja semua itu, kita memikirkan dan menikmati pertemuan kita ini”.

“Kak, aku sangat merindukanmu. Jauh-jauh aku datang dari Banjarmasin tempat aku
berdomisili saat ini hanya untuk bertemu denganmu” katanya sambil merapatkan tubuhnya ke
tubuhku, bahkan bersandar di bahuku.

“Aku juga demikian sayang. Makanya apapun resikonya, aku tetap berusaha menemuimu di
tempat ini.

Aku sama sekali tidak bisa merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang sama ketika kita
belajar bersama di rumahmu tempo hari” sambungku sambil memeluk tubuhnya, malah membelai
rambutnya yang agak panjang dan terasa harum. Ia tidak hanya bersandar dibahuku, tapi kali
ini ia berbaring di atas kedua pahaku, sehingga aku mengelus-elus pipi dan kelopak matanya
yang terasa sedikit basah. Entah karena sedih atau bahagia, tapi yang jelas air mata itu
terasa hangat. Untuk membuktikan kasih sayang dan kerinduanku, aku mencoba mengecup
pipinya yang putih bersih itu, sehingga ia menarik kepalaku lebih rapat lagi seolah ia
tidak ingin aku menarik kecupanku itu.
“Kak, aku telah mengetahui seluruh keadaanmu sekarang ini dari mamaku di kampung, termasuk
no. teleponmu. Apa kamu tidak ingin atau tidak mau ketahui keadaanku saat ini Kak?”
tanyanya tiba-tiba sambil mengangkat kepalanya dan menatap wajahku.

“Oh yah, sempat kudengar tadi dari ucapanmu bahwa kamu tidak ingin melihat rumah tanggaku
hancur seperti rumah tanggamu. Kapan kamu berumah tangga dan apa memang kamu kurang
harmonis?” tanyaku padanya.

“Itulah Kak nasib buruk yang menimpaku. Tak lama setelah kuketahui bahwa kamu telah
beristri, akupun frustrasi dan bergaul dengan banyak lelaki. Hingga akhirnya seorang
lelaki seusiamu melamarku lalu aku terima menjadi suamiku.
3 Bulan kemudian kuketahui bahwa ia ternyata sudah memiliki istri sebelumku, malah sudah
punya seorang anak. Aku tinggalkan dia dan menuntut cerai, tapi ia tetap tidak mau
ceraikan aku. Aku lalu ke Banjarmasin dan tinggal di rumah sepupuku. Enam Bulan kemudian,
tanpa bekal surat cerai aku menerima lamaran seorang pria yang usianya jauh lebih mudah di
bawah usiaku” ulasannya panjang lebar. Aku sangat tertarik mendengar pengalamannya itu,
sehingga belum aku sempat mengomentari penjelasannya itu, ia terus cerita pengalamannya.
“Sialnya Kak, belum cukup satu tahun perkawinan kami itu, pria yang jadi suamiku itu kawin
lagi dengan wanita Banjar sesukunya karena dipaksa oleh keluarganya dan tidak direstui
perkawinannya denganku. Aku sakit sekali dan ingin rasanya bunuh diri, tapi tiba-tiba aku
teringat dengan kebahagiaan yang pernah kualami 10 tahun lalu bersama Kak, sehingga aku
bertekat untuk menemui Kakak dengan harapan kalau-kalau kebahagaian dan kasih sayang itu
masih bisa kunikmati kembali sebelum aku meninggalkan dunia yang fana ini. Itulah yang
mendorongku ke sini Kak” ceritanya panjang lebar sambil meneteskan airmata di pangkuanku.

“Sabar sayang, jangan putus asa. Masih banyak kebahagiaan dan kenikmatan hidup yang bisa
kita alami jika kita masih hidup. Semua itu adalah ujian yang tak bisa dihindari. Buktinya
kan aku ini masih menyayangimu, mencintaimu, merindukanmu dan..” belum aku selesaikan
ucapanku, ia tiba-tiba menutup mulutku dengan tangannya, lalu

“Jangan diteruskan Kak, aku takut menyakiti hati istrimu dan merusak kebahagiaan rumah
tanggamu. Biarlah aku yang mengalami nasib buruk ini” katanya menyadarkanku kalau aku
selama ini hidup rukun bersama istri.

“Kalau memang tujuanmu satu-satunya ke sini hanya untuk bertemu denganku, maka bersyukur
dan berbahagialah sekarang karena kita sudah ketemu dan marilah kita saling melepaskan
kerinduan kita mumpung masih sempat dan masih pagi” kataku sambil membelai tubuhnya dan
mengangkat kedua kakinya yang terjulur ke bawah lalu membaringkannya di atas kasur yang
empuk, kemudian aku berbaring di sampingnya sambil memeluk tubuhnya dalam satu bantal
dengan tetap meneruskan pembicaraan kami.

Entah siapa yang memulai, tapi kini kami sudah saling merangkul dan berciuman dan bermain
lidah, malah tanpa kusadari pula siapa yang lebih duluan, yang jelas tanganku sudah
mempermainkan dua buah dada yang terselip di balik baju dan BH yang dikenakan Venti,
sementara tangan Venti sudah meraba-raba dan menggocok-gocok sebuah rudah yang berdiri
tegak di balik CDku, padahal kami sama-sama masih berpakaian lengkap. Tanpa terdengar
suara sepata katapun, tangan kami sangat aktifnya mempermainkan alat vital yang dulunya
pernah kami permainkan.

“Aku buka bajunya yah sayang, biar aku lebih leluasa menikmati seluruh tubuhmu yang pernah
jadi pusat kenikmatanku” kataku berbisik sambil mempreteli baju dan celana panjang yang
dikenakannya.
Venti hanya mengangguk, namun tanpa minta izin ia juga ikut membuka kancing bajuku satu
demi satu yang diteruskan dengan membuka ikat pinggang, resteling dan melorotkan celana
panjangku.
Kini kami berpelukan dan berpagutan dalam keadaan setengah bugil sambil bergulingan.
Kadang Venti berbaring di kiri dan di kananku, bahkan di atas dan di bawahku. Kami sudah
sama-sama sangat terangsang sehingga tanpa aba-aba lagi, aku langsung melepas BH-nya,
sehingga nampak di depan mata saya dua benda putih tergantung yang tidak terlalu besar
tapi montok, halus dan sedikit menonjol akibat rangsangan meskipun tak semungil ketika
pertama kali kupegang dulu.

Kujulurkan ujung lidahku keputingnya yang mulai agak keras dan warna coklat. Kujilati
seluruh permukaannya, kuhisap dan kadang sedikit kugigit. Ia nampak menikmatinya, bahkan
untuk mengimbangi kenikmatannya itu, ia bergerak menggelinjang, lalu memutar tubuhnya
sehingga arah kami berlawanan. Dalam keadaan menyamping, ia mendorong CD-ku hingga turun
sampai ke lutut, lalu meraih isinya yang sedang mengacung itu dan memasukkannya ke dalam
mulutnya dan memainkan dengan lidahnya, bahkan memutar-mutar dalam mulutnya, sehingga aku
terasa mau muncrat.

“Terus Kak, aku nikmat sekali auh..uhh..aahh..usstt..” katanya sambil berdesis dengan
nafas terputus-putus ketika aku memainkan lidahku dengan cepatnya ke dalam lubang
vaginanya yang basah dan masih mulus tanpa bulu selembarpun seperti ketika pertama kali
aku jamah di rumahnya tempo hari. Iapun seolah mengikuti gerakan mulutku dengan
mempercepat gocokan mulutnya pada rudalku yang terasa hampir muncrat.

“Aduh, aku sudah tidak mampu lagi menahan sayang, aahh..uuhh” kataku sambil mendorong
kepalanya agar ia menghentikan gocokannya.

Bersamaan dengan itu pula, Venti tiba-tiba berdiri dan segera mengangkangi tubuhku yang
terbaring terlentang di bawahnya. Nampaknya ia sudah tidak sabaran lagi. Ia dengan
cepatnya membuka kedua bibir vaginanya sehingga kulihat sedikit menganga dan nampak
berwarna merah pada kedua bibirnya, lalu menurunkan pantatnya sehingga lubang kemaluannya
pas ketemu dengan ujung penisku yang memang sejak tadi berdiri. Tanpa dipegang dan
diarahkan, penisku itu dapat masuk dengan mudah ke lubangnya meskipun tidak langsung
amblas seluruhnya melainkan setelah kami bantu dengan beberapa kali gerakan pinggul ke
kiri dan ke kanan seperti orang ngebor.

“Hmm..aahh..” itulah suara kecil bersama nafas keluar dari mulut kami secara bergantian
ketika Venti berpegangan di atas kedua pahanya sambil mempercepat gerakan pinggulnya ke
bawah dan ke atas seiring dengan gerakan pinggulku. Bahkan saking keras dan lamanya
gerakannya itu, sampai-sampai ia capek dan berhenti sejenak lalu kedua tangannya bertumpu
di atas dadaku lalu di atas kasur kemudian dengan leluasanya menggerakkan pinggulnya yang
menyebabkan terdengarnya bunyi “Ciprat..ciprot” secara berirama dari persenggolang kelamin
kami.

“Aku mau keluaar sayang, berhennti duluu” kataku ketika terasa ada lahar panas mulai
mengalir dari dalam batang kemaluanku. Karena permintaanku itu, Venti berhenti bergoyang
sejenak, lalu terlentang di sampingku dengan membuka kedua pahanya. Akupun mengerti
maksudnya, lalu aku yang mengangkanginya dan dengan mudah menusukkan kembali rudalku ke
lubangnya dan menggocok-gocoknya terus.
Sambil aku gocokkan penisku ke dalam vaginanya, Venti meraih bantal guling dan mengganjal
pinggulnya lalu membuka lebar-lebar kedua pahanya sehingga batangku bisa masuk lebih
dalam, bahkan terasa kedua biji pelerku masuk ke lubangnya, sehingga suara dan bunyi khas
itu sulit dihindari, malah kali ini semakin besar dan ribut. Tidak puas dengan gaya itu,
Venti mendorong pinggulku ke atas lalu mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi hingga
ujungnya menyentuh bahuku. Akupun menekannya dengan keras dan memompanya secepat mungkin,
terutama setelah ada tanda-tanda Venti juga sudah hampir mencapai puncak seiring yang
kurasakan.

Ternyata benar, dalam posisi terakhirku itu, kami secara bersamaan memuntahkan lahar panas
tanpa izin dari siapa-siapa dan tanpa aba-aba. Hal ini amat terasa ketika aku muncrat ke
dalam vaginanya. Ventipun memelukku erat sekali, malah sedikit mencakar punggungku dan
menarik- narik rambutku yang ditandai pula dengan denyut-denyut yang menjepit ujung
penisku.

Lalu kami secara bersamaan lemas lunglai sambil berbaring dengan nafas yang terputus-putus
tanpa suara, gerakan dan pandangan yang berartri lagi. Kami bagaikan mayat telanjang yang
terbaring berdampingan di atas tempat tidur. Kami baru sadar jika kami betul-betul sempat
tertidur sekitar 30 menit setelah terdengar ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu kamar
dari luar. Kami secara bersamaan bangkit dan merapikan pakaian lalu kubuka pintu, ternyata
petugas Wisma mau tanya apa aku mau bermalam atau mau pulang, sebab ia mau kunci pintu
pagarnya.

Hampir bersamaan kami menjawabnya dengan kata “iya” setelah melihat jarum jam dinding
sudah menunjuk pukul 12.30, lalu petugaspun berlalu dan aku kembali mengunci pintu.
Setelah itu kami berbarik sejenak sambil berpelukan lalu melepaskan pakaian masing-masing
secara total seperti sedia kala lalu kugendong Venti masuk ke kamar mandi untuk
membersihkan badan, terutama tentunya bekas cairan dari mulut dan kemaluan kami.

Sesampai di kamar mandi, kami saling menyirami dan menggosok seluruh badan, sehingga
gairah dan nafsu sex kami kembali bangkit dan ingin rasanya melanjutkan ronde kedua di
dalam kamar mandi biar gaya dan kesannya agak lain lagi. Kami memang sempat melakukan
dengan bermacam-macam posisi, gaya dan metode sex di kamar mandi itu sehingga kami sempat
mencapai puncak kenikmatan 3 kali, bahkan kami lanjutkan di atas tempat tidur hingga
menjelang pagi. Kami tidak mampu lagi menghitung berapa kali kami muncrat selama pertemuan
kami dalam kamar wisma itu.

Pertemuan kami di kamar wisma itu, betul-betul suatu pertemuan yang luar biasa berkesan.
Seumur hidupku mungkin sulit kami alami kembali pertemuan seperti itu. Kerinduan kami
selama 10 tahun betul-betul terobati malam itu, bahkan kami mencetak sejarah hidup yang
sulit terlupakan lagi. Sayang Venti hanya sempat bermalam 1 malam di kotaku karena takut
menimbulkan masalah baru pada rumah tanggaku, sementara aku masih siap menemaninya selama
beberapa malam sekiranya ia mau bertahan. Oh Venti sayang, kapankah kita bisa lagi
mengulangi pertemuan seperti itu. Mungkinkah hal ini bisa terulang sebelum ajal kita
dicabut. Alangkah nikmat dan bahagianya perasaanku malam itu. Rasanya aku tak mau malam
itu berlalu dengan cepat, tapi itulah hidup dan fitrah yang harus diterima oleh setiap
insan.-


Terimakasih Atas Kunjungan Anda.Jangan Lupa Selalu Berkunjung Kembali
supaya tidak ketinggalan Cerita cerita Dewasa Terbaru.

Jika Kamu Menyukai Postingan Ini, Share Ke Teman-Temanmu Di Facebook ya Pulsker!


CERITA SEX DEWASA | CERITA SEX TERBARUCERITA SEX HOT | NONTON BOKEP
Cerita Sex Dewasa Venti Sang Mantan Cerita Sex Dewasa Venti Sang Mantan Reviewed by Layar Lendir on Januari 18, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Bandar Sakong
Diberdayakan oleh Blogger.