Bandar Sakong

Cerita Sex Hot Nafsu Bu Guru

Cerita Sex Hot Nafsu Bu Guru

Cerita Sex Hot Nafsu Bu Guru
www.LayarLendir.com

Majalah Bokep - Dessi adalah sosok guru yang paling cantik dan paling terkenal dengan keseksiannya ketika
mengajar. Setiap murid-muridnya pasti akan terpana memandang kecantikan dan keseksian ibu
gurunya yang satu itu. umurnya masih muda 28 tahunan, dengan rambut panjang, tubuh
langsing, dan buah dada yang menonjol besar 36B dan bongkahan kedua pantatnya yang naik
turun secara beraturan ketika berjalan selalu menghiasi hari-hari murid laki-lakinya.
Bahkan tak jarang Dessi genit menggoda murid yang memang disukainya, seperti yang satu
ini.

Agung adalah murid yang paling menjadi pusat perhatian cewek-cewek disekolahan, karena
tubuhnya yang tinggi kekar dan penampilannya yang keren dan stay cooll membuat para
teman-teman wanitanya banyak yang menyukainya. Namun tanpa diduga ibu gurunya yang
terkenal cantik dan seksi itu juga menaruk rasa suka kepadanya. Hingga akhirnya muncullah
pikiran kotor Dessi untuk megundang Agung kerumahnya agar Dessi bisa menggodanya secara
leluasa tanpa diketahui murid-murid yang lainya.
Saat pelajaran Agung yang memang terkenal kurang cerdas sengaja diberikan soal yang sangat
sulit oleh Dessi agar supaya Dessi bisa mencari alasan untuk menyuruh Agung kerumahnya.
Setelah 2 jam semua murid mengerjakan soal hanya Agung yang paling mendapatkan nilai yang
paling jelek. Sesuai dengan rencana, Dessi kemudian memanggil Agungk sendirian setelah
para murid-murid keluar. “Agung nilai kamu dikelas paling jelek, kamu nanti siang harus
kerumah ibu untuk mendapatkan pelajaran kusus dari ibu”. “Iyha Bu, sulit banget soal yang
ibu berikan tadi” jawab Agung. “Nanti ibu tunggu kamu dirumah, kalau gak datang kerumah
ibu, ibu akan memberikan nilai jelek padamu Agung” ucap Dessi. “Iyha Bu, Agung pasti
datang kerumah bu Dessi”jawab Agung.
Tepat seperti janji Agung, siang itu Agung menepati janjianya untuk datang kerumah Dessi.
Setelah diketok pintu bu gurunya itu, dibukalah dan Agung bengong melihat apa yang
dilihatnya, Karena siang itu bu gurunya menggunakan pakaian yang sangat seksi dan super
mini, sehingga membuat Agung melotot melihat tubuh bu gurunya itu. “Heey, kamu bengong
ngelihatin apa Agung” ujar Dessi. “Eeenngg…Engggak papa kok bu” jawab Agung dengan
tergagap. “Ayoo masuk” ajak Dessi. Kemudian Dessi mengajak Agung kesebuah ruangan. Dan
memberikan Agung selembar kertas berupa soal-soal dan menyuruh Agung untuk mengerjakannya
lalu meninggalkannya pergi keruang tengah.
”Sudah selesai Agung?”, Dessi masuk kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Agung
selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang diberikannya.”Hampir bu””Kalau sudah
nanti masuk ke ruang tengah ya saya tinggal ke belakang..””Iya..””Bu Dessi, Saya sudah
selesai”, Agung masuk ke ruang tengah sambil membawa pekerjaannya.”Ibu dimana?””Ada di
kamar.., Agung sebentar ya”, Dessi berusaha membetulkan t-shirtnya. Ia sengaja mencopot
BH-nya untuk merangsang muridnya itu. Di balik kaus longgarnya itu bentuk payudaranya
terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul.
Begitu ia keluar, mata Agung nyaris copot karena melotot, melihat tubuh gurunya. Dessi
membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka
murid-muridnya.”Kenapa ayo duduk dulu, Ibu periksa..”Muka Agung merah karena malu, karena
Dessi tersenyum saat pandangannya terarah ke buah dadanya.”Bagus bagus…, Kamu bisa gitu
kok pakai menyontek segala..?””Maaf Bu, hari itu saya lupa untuk belajar..””oo…, begitu
to?””Agung kamu mau menolong saya?”, Dessi merapatkan duduknya di karpet ke tubuh
muridnya.”Apa Ibu?”, tubuh Agung bergetar ketika tangan gurunya itu merangkul dirinya,
sementara tangan Dessi yang satu mengusap-uasap daerah ‘vital’ nya.”Tolong Ibu ya…, dan
janji jangan bocorkan pada siapa–siapa”.”Tapi tapi…, Saya”.”Kenapa?, oo…, kamu masih
perawan ya?”.Muka Agung langsung saja merah mendengar perkataan Dessi”Iya””Nggak apa-apa”,
Ibu bimbing ya.

Dessi kemudian duduk di pangkuan Agung. Bibir keduanya kemudian saling berpagutan, Dessi
yang agresif karena haus akan kehangatan dan Agung yang menurut saja ketika tubuh hangat
gurunya menekan ke dadanya. Ia bisa merasakan puting susu Dessi yang mengeras. Lidah Dessi
menjelajahi mulut Agung, mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan bagai ular.
Setelah puas, Dessi kemudian berdiri di depan muridnya yang masih melongo. Satu demi satu
pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos seakan akan menantang untuk diberi
kehangatan oleh perjaka yang juga muridnya ini.”Lepaskan pakaiannmu Agung”, Dessi berkata
sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi
tubuhnya.”Ahh cepat Agung”, Dessi mendesah tidak sabar.
Agung kemudian berlutut di samping gurunya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Pengetahuannya tentang seks hanya di dapatnya dari buku dan video saja.”Agung…, letakkan
tanganmu di dada Ibu”,Dengan gemetar Agung meletakkan tangannya di dada Dessi yang turun
naik. Tangannya kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Dessi yang montok
itu.”Oohh…, enakk…, begitu caranya…, remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang..”
Dengan semangat Agung melakukan apa yang gurunya katakan.”Ibu…, Boleh saya hisap susu
Ibu?”.Dessi tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, yang berkata sambil menunduk,
“Boleh…, lakukan apa yang kamu suka”.
Tubuh Dessi menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulut pemuda itu di susunya.
Perasaan yang ia pernah rasakan 3 tahun lalu saat ia masih bersama suaminya.”Oohh…, jilat
terus sayang…, ohh”, Tangan Dessi mendekap erat kepala Agung ke payudaranya.

Agung semakin buas menjilati puting susu gurunya tersebut, mulutnya tanpa ia sadari
menimbulkan bunyi yang nyaring. Hisapan Agung makin keras, bahkan tanpa ia sadari ia
gigit-gigit ringan puting gurunya tersebut.”mm…, nakal kamu”, Dessi tersenyum merasakan
tingkah muridnya itu.”Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar Ibu”.Agung menurut saja.
Duduk diantara kaki Dessi yang membuka lebar. Dessi kemudian menyandarkan punggungya pada
dinding di belakangnya.”Coba kamu rasakan”, ia membimbing telunjuk Agung memasuki
vaginanya.”Hangat Bu..”Bisa kamu rasakan ada semacam pentil…?””Iya..””Itu yang dinamakan
kelentit, itu adalah titik peka cewek juga. Coba kamu gosok-gosok”Pelan-pelan jari Agung
mengusap-usap clitoris yang mulai menyembul itu.”Terus…, oohh…, ya…, gosok…, gosok”, Dessi
mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya digosok-gosok oleh Agung.”Kalo diginiin
nikmat ya Bu?”, Agung tersenyum sambil terus menggosok-gosok jarinya.”Oohh…, Agung…, mm”,
tubuh Rini telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya
merintih-rintih keenakan.

Tangan Agung semakin berani mempermainkan clitoris gurunya yang makin bergelora dirangsang
birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanan gurunya akan segera
jebol.”Ooaahh…, Aguuung”, Tangan Dessi mencengkeram pundak muridnya, sementara tubuhnya
menegang dan otot-otot kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati
kenikmatan yang telah lama tidak dirasakannya.”Hmm…, kamu lihai Agung…, Sekarang…, coba
kamu berbaring”.Agung menurut saja. Penisnya segera menegang ketika merasakan tangan
lembut gurunya.”Wah…, wahh.., besar sekali”, tangan Dessi segera mengusap-usap penis yang
telah mengeras tersebut.

Segera saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Dessi. Ia segera
menjilati penis muridnya itu dengan penuh semangat. Kepala penis muridnya itu dihisapnya
keras-keras, sehingga Agung merintih keenakan.”Ahh…, enakk…,enakk”, Agung tanpa sadar
menyodok-nyodokkan pinggulnya untuk semakin menekan penisnya makin ke dalam kuluman Dessi.
Gerakannya makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Dessi.”oohh Ibu…, Ibbuu”Muncratlah
cairan mani Agung di dalam mulut Dessi, yang segera menjilati cairan itu hingga
tuntas.”Hmm…, manis rasanya Agung”, Dessi masih tetap menjilati penis muridnya yang masih
tegak.”Sebentar ya aku mau minum dulu”.

Ketika Dessi sedang membelakangi muridnya sambil menenggak es teh dari kulkas. Tiba-tiba
ia merasakan seseorang mendekapnya dari belakang.”Agung…, biar Ibu minum dulu”.”Tidak…,
nikmati saja ini”, Agung yang masih tegang berat mendorong Dessi ke kulkas.Gelas yang
dipegang Dessi jatuh, untungnya tidak pecah. Tangan Dessi kini menopang tubuhnya ke
permukaan pintu kulkas.”Ibu…, sekarang!””Ahhkk”, Dessi berteriak, saat Agung menyodokkan
penisnya dengan keras ke liang vaginanya dari belakang. Dalam hatinya ia sangat menikmati
hal ini, pemuda yang tadinya pasif berubah menjadi liar.

”Agung…, enakk…, ohh…, ohh”. Tubuh Dessi bagai tanpa tenaga menikmati kenikmatan yang
tiada taranya. Tangan Agung satu menyangga tubuhnya, sementara yang lain meremas
payudaranya. Dan penisnya yang keras melumat liang vaginanya.”Ibu menikmati ini khan”,
bisik Agung di telinganya”Ahh…, hh”, Dessi hanya merintih, setiap merasakan sodokan keras
dari belakang.”Jawab…, Ibu”, dengan keras Agung mengulangi sodokannya.”Ahh…,iyaa””Agung…,
Agung jangann…, di dal.. La” belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Dessi telah merasakan
cairan hangat di liang vaginanya menyemprot keras. Kepalang basah ia kemudian menyodokkan
keras pinggulnya.”Uuhgghh”, penis Agung yang berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam
liang Dessi.”Ahh”.

Kedua insan itupun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka rasakan. Setelah
kejadian dengan Agung, Dessi masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan
mereka. Namun yang mengganjal hati Dessi adalah jika Agung kemudian membocorkan hal ini ke
teman-temannya.

Ketika Dessi berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada
seorang muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Beni. Ia
berbeda dengan Agung, anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan nakal. Hatinya
agak tidak enak melihat situasi ini.”Bu Dessi salam dari Agung”, Beni melemparkan senyum
sambil duduk di sepeda motornya.”Terima kasih, boleh saya masuk”, Ia harus berkata begitu
karena sepeda motor Beni menghalangi pintu mobilnya.”Boleh…, boleh Bu saya juga ingin
pelajaran tambahan seperti Agung.”Langkah Dessi terhenti seketika. Namun otaknya masih
berfungsi normal, meskupun sempat kaget.”Kamu kan nilainya bagus, nggak ada masalah
kan..”, sambil duduk di balik kemudi.”Ada sedikit sih kalau Ibu nggak bisa mungkin kepala
guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan pelajaran Agung”, Beni tersenyum penuh
kemenangan.”Apa hubungannya?”, Keringat mulai menetes di dahi Dessi.”Sudahlah kita sama-
sama tahu Bu. Saya jamin pasti puas”.

Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Dessi langsung menjalankan mobilnya ke rumahnya.
Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk
masuk kompleks perumahan. Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton TV di ruang
tengah. Namun ketika ia hendak duduk pintu depan diketuk oleh seseorang. Dessi segera
menuju pintu itu, ia mengira Agung yang datang. Ternyata ketika dibuka”Beni! Kenapa kamu
ngikuutin saya!”, Dessi agak jengkel dengan muridnya ini.”Boleh saya masuk?”.”Tidak!”.”Apa
guru-guru perlu tahu rahasiamu?”.”!!”dengan geram ia mempersilakan Beni masuk.”Enak ya
rumahnya, Bu”, dengan santainya ia duduk di dekat TV. “Pantas aja Agung senang di
sini”.”Apa hubunganmu dengan Agung?, Itu urusan kami berdua”, dengan ketus Dessi
bertanya.”Dia teman dekat saya. Tidak ada rahasia diantara kami berdua”.”Jadi artinya”,
Kali ini Dessi benar-benar kehabisan akal. Tidak tahu harus berbuat apa.”Bu, kalo saya mau
melayani Ibu lebih baik dari Agung, mau?”, Beni bangkit dari duduknya dan berdiri di depan
Dessi. Dessi masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin.

Dessi masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin. Belum
sempat ia menjawab, Beni telah membuka ritsluiting celananya. Dan setelah beberapa saat
penisnya meyembul dan telah berada di hadapannya.”Bagaimana Bu, lebih besar dari Agung
khan?”.Beni ternyata lebih agresif dari Agung, dengan satu gerakan meraih kepala Dessi dan
memasukkan penisnya ke mulut Dessi.”Mmpfpphh”.”Ahh yaa…, memang Ibu pandai dalam hal ini.
Nikmati saja Bu…, nikmat kok”Rupanya nafsu menguasai diri Dessi, menikmati penis yang
besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya bagai permen.

Dijilatinya kepala penis pemuda itu dengan semangat. Kontan saja Beni merintih
keenakan.”Aduhh…, nikmat sekali Bu oohh”, Beni menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut
Dessi, sementara tangannya meremas-remas rambut ibu gurunya itu. Dessi merasakan penis
yang diisapnya berdenyut-denyut. Rupanya Beni sudah hendak keluar.”oohh…, Ibu enakk…,
enakk…, aahh”.Cairan mani Beni muncrat di mulut Dessi, yang segera menelannya. Dijilatinya
penis yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri.”Sudahh…, sudah selesai kamu
bisa pulang”, Namun Dessi tidak bisa memungkiri perasaannya. Ia menikmati mani Beni yang
manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika penis yang besar itu masuk ke
vaginanya.”Bu, ini belum selesai. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang
sebenarnya.””Apa! beraninya kamu memerintah!”, Namun dalam hatinya ia mau. Karenanya tanpa
berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Beni mengikuti saja.

Setelah ia di dalam, Dessi tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara
pakaian jatuh, dugaannya pasti Beni sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera mengikuti
jejak Beni. Namun ketika ia hendak melepaskan kancing dasternya.”Sini saya teruskan”, ia
mendengar Beni berbisik ke telinganya. Tangan Beni segera membuka kancing dasternya yang
terletak di bagian depan. Kemudian setelah dasternya jatuh ke lantai, tangan itupun
meraba-raba payudaranya. Dessi juga merasakan penis pemuda itu diantara belahan
pantatnya.”Gilaa…, besar amat”, pikirnya. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos.
Penis Beni digosok-gosokkan di antara pantatnya, sementara tangan pemuda itu meremasi
payudaranya. Ketika jemari Beni meremas puting susu Dessi, erangan kenikmatan pun
keluar.”mm oohh”.Beni tetap melakukan aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara
tangan satunya melakukan operasi ke vagina Dessi.”Beni…, aahh…, aahh”, Tubuh Dessi
menegang saat pentil clitorisnya ditekan-tekan oleh Beni.”Enak Bu?”, Beni kembali berbisik
di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu.

Dessi hanya bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan
pekerjaan tangan Beni dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya. Tiba-tiba Beni
mendorong tubuh Dessi agar membungkuk. Kakinya di lebarkan.”Kata Agung ini posisi yang
disukai Ibu””Ahhkk…, hmm…, hmmpp”, Dessi menjerit, saat Beni dengan keras menghunjamkan
penisnya ke liang vaginanya dari belakang.””Ugghh…, innii…, innii”, Beni medengus penuh
gairah dengan tiap hunjaman penisnya ke liang Dessi. Dessipun berteriak-teriak kenikmatan,
saat liang vaginanya yang sempit itu dilebarkan secara cepat.”Adduuhh…, teruss.., teruss
Benia…, oohh”, Kepala ibu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan Beni. Tangan
Beni mencengkeram pundak Dessi, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar semakin
cepat saja menelan penisnya.”Oohh Dessi…, Deeesssiii”.Dessi segera merasakan cairan hangat
menyemprot di dalam vaginanya dengan deras. Matanya terpejam menikmati perasaan yang tidak
bisa ia bayangkan.
Dessi masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi
bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu vaginanya
sangat becek, berlepotan mani Beni dan maninya sendiri. Beni juga telajang bulat, ia duduk
di tepi tempat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya
meraba-raba liang vagina Dessi, kemudian dipermainkannya pentil kelentit gurunya itu.”mm
capek…, mm”, bibir Dessi mendesah saat pentilnya dipermainkan. Sebenarnya ia sangat lelah,
tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi.

Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Beni untuk memainkan
clitorisnya.”Beeen aahh”, Tubuh Dessi bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Beni
mempercepat permainan tangannya.”Bu…, balik…, Beni pengin nih””Nakal kamu ahh”, dengan
tersenyum nakal, Dessi bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan tempat
tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan penis Beni. Beni meraih payudara Dessi dari
belakang dan mencengkeramya dengan keras saat ia menyodokkan penisnya yang sudah
tegang”Adduuhh…, owwmm”, Dessi mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang
vaginannya yang telah licin melebar karena desakan penis Beni.”Bu Dessi nikmat lho vagina
Ibu…, ketat”, Beni memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.”mm…, aahh…, ahh…,
ahhkk”, Dessi tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih seiring gerakan
Beni. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Beni.Cerita Sex Terbaru

Kenikmatan ia peroleh juga dari remasan muridnya itu.”Ayoo…, aahh.., ahh… Mm.., buat Ibu
keluuaa.. Rr lagi…”. Gerakan Dessi makin cepat menerima sodokan Beni.
Tangan Beni beralih memegangi tubuh Dessi, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya
tidak lagi “doggy style”, melainkan kini Dessi menduduki penisnya dengan membelakangi
dirinya. Beni kini telentang di tempat tidur yang acak-acakan dan penuh oleh mani yang
mengering.”Ooww..”, Teriakan Dessi terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan
orgasmenya. Tangannya mencengkeram tangan Beni, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan
yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Beni sendiri tetap menusuk-nusukkan penisnya
ke vagina Dessi yang makin becek.”Ayoo…, makin dalam dalamm”.”Ahh.., aahh…, aahh..”,
Benipun mulai berteriak-teriak.”Mau kelluuaarr”Dessi sekali lagi memejamkan matanya, saat
mani Beni menyemprot dalam liang vaginanya.

Dessi kemudian ambruk menindih tubuh Beni yang basah oleh keringat. Sementara diantara
kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka.”Bu Dessi…, sungguh luar
biasa, Coba kalau Agung ada disini sekarang”.”mm memangnya kamu mau apa”, Dessi kemudian
merebahkan dirinya di samping Beni. Tangannya mengusap-usap puting Beni.”Kita bisa main
bertiga, pasti lebih nikmat..”Dessi tidak bisa menjawab komentar Beni, sementara
perasaannya dipenuhi kebingungan.

Akhirnya hari kelulusan murid klas 3 sampai juga. Dengan demikian Dessi harus berpisah
dengan kedua murid yang disayanginya, terlebih lagi ketika ia harus pindah ke kota lain
untuk menempati pos baru di Kanwil. Karenanya ia memanggil Agung untuk datang ke rumahnya
untuk memberitahukan perihal kepindahannya.Ketika seputar Indonesia mulai ditayangkan,
Agung muncul. Ia langsung dipersilakan duduk.”Bu, Agung kangen lho”.”Iya deh…, nanti.
Gini, Ibu bulan depan pindah ke kota B, soalnya akan dinaikkan pangkatnya. Jadi…, jadi…,
Ibu ingin malam ini malam terakhir kita”, mata Dessi berkaca-kaca ketika mengucapkan
itu.”…………..”, Agung tidak bisa menjawab.

Ia kaget mendengar berita itu. Baginya Dessi merupakan segalanya, terlebih lagi ia telah
mendapatkan pelajaran berharga dari gurunya itu.”Tapi Agung masih boleh berkirim surat
kan?”.Dessi bisa sedikit tersenyum melihat muridnya tabah, “Iya…, boleh…, boleh”.”Minum
dulu Gung, ada es teh di meja makan. Kalau sudah nonton DVD di kamar yaa”, Dessi
mengerling nakal ke muridnya sambil beranjak ke kamar. Di kamar ia mengganti pakaiannya
dengan kimono kegemarannya, melepas Bra, menghidupkan AC dan tentu saja menyetel DVD
‘Kamasutra-nya Penthouse”. Lalu ia tengkurap di tempat tidur sambil menonton TV.

Diluar Agung meminum es teh yang disediakan Dessi dan membiarkan pintu depan tidak
terkunci. Ia mempunyai rencana yang telah disusun rapi.Lalu Agung menyusul Dessi ke kamar
tidur. Begitu pintu dibuka ia melihat gurunya tengkurap menonton DVD dengan dibalut kimono
merah tipis, lekuk tubuhnya jelas terlihat. Rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya
bagai gadis iklan shampo Pantene.”Ganti pakaian itu Nto..”, Dessi menunjuk celana pendek
dan kaos tipis yang terlipat rapi di meja riasnya.

Ketika Agung sedang mencopot celananya Dessi sempat melihat penis pemuda itu menyembul di
balik celana dalam GT Man-nya. Setelah selesai Agung juga tengkurap di samping
Dessi.”Sudah liat film ini belum? Bagus lho untuk info posisi-posisi ngesex”.”Belum tuh…”,
Mata Agung tertuju pada posisi dimana si wanita berdiri memegang pohon sementara si pria
memasukkan penisnya dari belakang, sambil meremas-remas payudara partnernya.”mm…, itu
posisi fave saya. Kalau kamu suka nanti CD itu bisa kamu ambil”.”Thanx..”, Agung kemudian
mengecup pipi gurunya.

Adegan demi adegan terus bergulir, suasana pun menjadi semakin panas. Dessi kini tengkurap
dengan tidak lagi mengenakan selembar benangpun. Demikian pula Agung. Agung kemudian duduk
di sebelah gurunya itu, dibelainya rambut Dessi dengan lembut, kemudian disibakkannya ke
sebelah kiri. Bibir Agung kemudian menciumi tengkuk Dessi, dijilatinya rambut-rambut halus
yang tumbuh lebat.”aahh…”Setelah puas, Agung kemudian memberi isyarat pada Dessi agar
duduk di pangkuannya.”Bu, biar Agung yang puasin ibu malam ini…”, Bisik Agung di telinga
Dessi. Dessi yang telah duduk di pangkuan Agung pasrah saja saat kedua tangan muridnya
meremas-remas payudaranya yang liat. Kemudian ia menjerit lirih saat puting susunya
mendapat remasan.”Akhh…”, Dessi memejamkan matanya.”Agung…, jilatin vagina ibu…”

Agung kemudian merebahkan Dessi, dibukanya kaki gurunya itu lebar-lebar, kemudian dengan
perlahan ia mulai menjilati vagina gurunya. Bau khas dari vagina yang telah basah oleh
gairah itu membuat Agung kian bernafsu.”oohh…, teruss…, teruuss…”, Dessi bergetar
merasakan kenikmatan itu. Tangannya membimbing tangan Agung dalam meremasi susunya.
Memberikan kenikmatan ganda.”Jilatin…, pentil itu…, oohohh”, Bagai dikomando Agung
menjilati pentil clitoris Dessi, dengan penuh semangat.”Aduuhh….. Oohh…oohh…hh..
Hh…..””Agung…, massuukk”.

Kaki Dessi kemudian disampirkannya ke pundak, dan dengan cepat disodokkannya penisnya ke
vagina Dessi yang becek.”mm…”, Dessi menggigit bibirnya. Meskipun lubang vaginanya telah
licin, namun penis yang besar itu tetap saja agak kesulitan menerobos masuk.”Uuhh…, masih
susah juga ya Bu…”, Agung sambil meringis memaju mundurkan penisnya. Ia merasakan penisnya
bagai diremas-remas oleh tangan yang sangat halus saat di dalam. Tangan Dessi
mempermainkan puting Agung. Dengan gemas dicubitnya hingga Agung berteriak.”Uhh…, nakal,
Ini balasannya!”, sodokan Agung makin keras, lebih keras dari saat ia memasukkan
penisnya.”aa…”.

Tiba-tiba pintu kamar tebuka! Spontan Dessi terkejut, tapi tidak bagi Agung. Beni sudah
berdiri di muka pintu, senjatanya telah tegak berdiri.”mm…, hot juga permainan Ibu dengan
Dia, boleh saya bergabung?”, Beni kemudian berjalan mendekati mereka. Dessi yang hendak
berdiri ditahan oleh Agung, yang tetap menjaga penisnya di dalam vagina Dessi.”Nikmati
saja…”Beni kemudian mengangkangi Dessi, penisnya berada tepat di mukanya.”Isap… Ayoo”,
sambil memasukkan penisnya. Saat itu pula Agung menghentakkan gerakannya. Saat Dessi
berteriak, saat itu pula penis Beni masuk.”Ahh…, nikmat..”, Dessi merem-melek menghisap-
hisap penis muridnya, sementara Agung dengan puas menggarap vaginanya.”uufff…, jilatin…,
jilatt”, tangan Beni memegangi kepala Dessi, agar semakin dalam saja mengisap penisnya.

Posisi itu tetap bertahan hingga akhirnya Agung keluar duluan. Maninya menyemprot dengan
leluasa di lubang vagina gurunya yang cantik. Sementara Beni tetap mengerang-erang sambil
medorong-dorong kepala Dessi. Setelah Agung mengeluarkan penisnya dari vagina Dessi,
“Berdiri menghadap tembok Bu!”Dessi masih kelelahan. Ia telah orgasme pula saat Agung
keluar, namun ia tidak bisa teriak karena ada penis di mulutnya. Saat ia berdiri dengan
tangan di tembok menahan tubuhnya, mani Agung menetes ke lantai.”mm…, Gung…, liat tuh
punya kamu..”, seru Beni sambil tertawa. Ia kemudian menempelkan tubuhnya ke Dessi.
Penisnya tepat berada di antara kedua pantat Dessi.”Nih Bu rasakan punya Beni juga ya”.

Agung dengan santai menyaksikan temannya menggarap gurunya dari belakang. Tangan Beni
memegangi pinggang Dessi saat ia menyodok-nyodokkan penisnya keluar masuk dengan cepat.
Saat Dessi merintih-rintih menikmati permainan mereka, Agung merasakan penisnya tegang
lagi. Ia tidak tahan melihat pemandangan yang sangat erotik sekali.Kedua insan itu saling
mengaduh, mendesah, dan berteriak lirih seiring kenikmatan yang mereka berikan dan
rasakan.”ooww…”, Tubuh Dessi yang disangga Beni menegang, kemudian lemas. Agung menduga
mereka berdua telah sampai di puncak kenikmatan.

Timbul isengnya, ia kemudian mendekati mereka dan menyusup diantara Dessi dan tembok.
Dipindahkannya tangan Dessi ke pundaknya, dan penisnya menggantikan posisi milik
Beni.”Agung…”, Lagi-lagi Dessi mendesah saat penis Agung masuk dan pinggulnya didorong
oleh Beni dari belakang.”Ahh.. Ahh…. Dorongg…dorongg………….””aa.. Aa… Aa”.”oohhkk…, kk…,
kk..”, Dessi berteriak keras sekali, saat dorongan Beni sangat keras menekan pinggulnya.
penis Agung amblas hingga mencapai pangkalnya masuk ke vagina Dessi. Saat itu pula ia
merasakan penis yang berdenyut-denyut itu melepaskan muatannya untuk kedua kali.-


Terimakasih Atas Kunjungan Anda.Jangan Lupa Selalu Berkunjung Kembali
supaya tidak ketinggalan Cerita cerita Dewasa Terbaru.

Jika Kamu Menyukai Postingan Ini, Share Ke Teman-Temanmu Di Facebook ya Pulsker!


CERITA SEX DEWASA | CERITA SEX TERBARUCERITA SEX HOT | NONTON BOKEP
Cerita Sex Hot Nafsu Bu Guru Cerita Sex Hot Nafsu Bu Guru Reviewed by Layar Lendir on Januari 27, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Bandar Sakong
Diberdayakan oleh Blogger.