Bandar Sakong

Cerita Sex Terbaru Dua Tante Sexy

Cerita Sex Terbaru Dua Tante Sexy

Cerita Sex Terbaru Dua Tante Sexy
www.layarlendir.com
Majalah Bokep - Panggil saja aku Roy, umurku saat ini 27 tahun. Aku sudah menikah dan aku sudah memepunyai
2 orang anak, laki-laki dan perempuan. 5 tahun pernikahanku berjalan baik-baik saja, dalam
berhubungan Sex istriku pun siap meladeniku kapan saja. keluar anak pertamaku istriku
masih sangat bergairah sekali, daya tariknya begitu menggoda, daya Sex nya juga sangat
besar, sehingga menjadikan keluargaku sangat harmonis. Ketika masih punya anak satu aku
sering mengajak istriku untuk melakukan fantasi Sex dimana saja yang kiranya membuat kami
beradu adrenalin dan istriku pun tak menolak.

Namun istriku mulai berubah semenjak kelahiran anak kedua. Daya tariknya sama sekali gak
kelihatan. Dia jarang dandan, gairah Sex nya juga berkurang, membuatku semakin lama
semakin merasa jenuh dengan keadaan itu. mulanya aku hanya iseng-iseng jalan-jalan
disebuah lokaNitasi hanya untuk melihat-lihat saja, aku masih menahan nafsuku melihat
abg-abg muda begitu bergairah. Hingga akhirnya suatu malam, ketika mau tidur aku mengajak
istriku untuk berhubungan Sex dulu, namun istriku menolak dengan alasan capek. Seketika
aku jengkelkarena birahi yang sudah aku tahan beberapahari gagal aku luapkan. Aku pun
segera bangkit dari kamar tidur dan langsung pergi dari rumah untuk mencari hiburan.
Ketika aku sampai diperempatan dekat rumahku, aku bertemu dengan temanku namanya Pri,
kemudian aku pun mengajaknya. Setelah kita muter-muter tak tentu arah, Pri pun menunjukan
kepadaku suatu tempat karaokean, dan Pri mengajakku kesitu. Jengkelku yang dari rumah
belum hilang tanpa lama langsung mengikuti kemauan Pri. Dan masuklah kita kesebuah
karaokean yang lumayan bagus. Dan setelah aku dan Pri masuk kedalam ruang karaokean, Pri
berpamitan kepadku keluar sebentar mencari yang seger-seger katanya. Dan aku pun menunggu
didalam sambil ngerokok.
“Nita..” seru tante itu disambut uluran tangannya padaku.
“Cellia..” sahut gadis manis disampingnya.

Singkat cerita, kami sudah mulai bernyanyi, berjoget dan minum-minum bersama, entah sudah
berapa keping VCD Blue Dangdut yang kami putar. Aku melihat Pri dan Adi mulai mendekati
sudut ruangan, dan entah sudah berapa lama ceweknya orgasme karena oral yang mereka
lakukan. Sementara aku sendiri agak kaku dengan Nita dan Cellia. Kami pun tetap
bernyanyi-nyanyi, meskipun syairnya awur-awuran karena desakan birahi akibat pertunjukan
BF di depan kami.
Aku sendiri duduk di dekat Nita, sementara Cellia serius menyanyikan lagu-lagu itu. Tante
Nita sendiri sudah habis satu pak A-mild-nya, sementara aku melihat wajah Cellia yang
merah padam dan kadang nafasnya terengah pelan karena menahan gejolak yang ia saksikan di
layar 29 inch itu. Tiba giliranku untuk mengambil mike dari Cellia, aku bangkit mengambil
mike itu dari tangan Cellia dan mengambil duduk di antara Cellia dan Nita. Pengaruh
minumanku dan XTC yang mereka telan membuat kami jatuh dalam alunan suasana birahi itu.
“Roy.., I want your sperm tonight Honey…” bisik Nita lirih di telingaku, sementara tangan
kirinya meraba selangkanganku.

Cellia yang sudah meletakkan pet aqua-nya mengambil sikap yang sama padaku. Dia malah
mulai memainkan ujung lidahnya di telinga. Hangat nafas dan harum kedua wanita itu
membuatku terbuai dalam alunan melodi birahi yang sudah aku rasakan menjalar menelusuri
selangkanganku. Perlahan namun pasti, kejantananku menegak dan kencang, sehingga penisku
rasanya tidak muat lagi, apalagi saat meneganggnya salah jalur dan sedikit melenceng.
“Lho kok.. bengkok punyamu Say..?” tanya Nita padaku pura-pura seperti seorang amatiran
saja.
Belum sempat aku menjawab, buru-buru Cellia membuka zipper dan celana dalamku, lantas
mengeluarkan isinya.
“Gini lho Tan… mintanya dilurusin, Mas Roy ini..” kata Cellia diikuti penundukkan
kepalanya ke arah selangkanganku.
“Aaakkhhh…” pekikku tertahan saat Cellia spontan mulai mengulum kepala penisku ke dalam
mulutnya dikombinaksikan dengan sedotan dan jilatan melingkar lidah.
Spotan kedua kakiku menegang dan membuka lebih lebar lagi untuk memudahkan oral Cellia.
“Ooookh My Godd… ssshhh… aakkk…” desahku.
Seluruh tubuhku bergetar dan terasa disedot seluruh sumsun tulangku lewat lubang penisku.
Permainan Cellia betul-betul professional, sampai-sampai dentuman musik itu sepertinya
tidak kudengar lagi, karena telingaku juga berdesir kencang. Ujung penisku betul-betul
ngilu, hangat, geli dan perasaan birahi bercampur jadi satu disana. Nita lantas membuka
kancing kemeja Hawai-ku dan mundaratkan mulut indahnya di puting susu kiriku, sementara
puting kanan dimainkan oleh telunjuk dan jempol kirinya.
“Aaakkk… mmmhhh…” desahku tidak menentu.
Aku betul-betul tidak tahan menikmati sensasi ini.
“Gila.., inilah penyelewenganku yang pertama dan dimanja oleh dua orang wanita sekaligus…”
bisikku dalam hati.
Aku semakin tidak tahan saja, lalu kurengkuh leher Nita dan kudekatkan bibirku, kujulurkan
lidahku menyapu seluruh rongga mulutnya dan sesekali kuhisap dalam-dalam bibir bawahnya
yang sangaat menawan itu. Ini karena jujur saja, aku lebih bergairah dengan Tante Nita,
meskipun umurnya sudah 33 tahun. Badanku lantas kumiringkan dan bersandar pada sofa. Bukit
indah Tante Nita adalah tujuanku dan benar saja, berapa saat kemudian.
“Oookkkhhh… Nimaaatthh… Sayyy… seddooottthhh… terrruuusshhh…” desah Nita terengah-engah.
Sedotanku kukombinasikan dengan pelintiran jempol dan telunjuk kiriku, sesekali kuputar-
putar putingnya dengan telapak tanganku.
“Ssshhh… terussshhh… Sayyy…” Nita mendesis seperti ular.
Tiba-tiba, “Teeettt..,” suara bel mengejutkan kami, pertanda sepuluh menit lagi akan
berakhir.
Aku melihat Adi dan Pri tersandar kelelahan, dan kulihat ada sisa sperma menentes dari
ujung penis-nya yang mulai mengkerut.
“Udahan dulu ya Tante.., Lia..,” pintaku pada mereka.
“Emmhhh… Oke…” jawab mereka dengan nada sedikit keberatan.
Kami pun turun, aku berpisah dengan Adi dan Pri, entah kemana mereka melanjutkan
petualangan birahinya. Dan kami pun sudah masuk ke Civic Nita.
“Kemana Kita nich..?” tanyaku sok bloon seraya menghidupkan mesin.
“Kita lanjutin di hotel yuk Ke..!” ajak Tanta Nita kepada Cellia.
“Baik Tan… Kita ke hotel yang punya whirpool di kamarnya.” sahut Cellia.

Rupanya Tante Nita adalah seorang eksekutif, karena itu ia pesan salah satu President Suit
Room yang mana seumur-umur aku baru mesuk ke dalamnya. Kamarnya luas, kurang lebih 6 x 8
meter, beralaskan permadani coklat muda kembang-kembang dan dilengkapi whirpool yang
menghadap ke arah kehijauan lembah. Kamar itu juga mempunyai sofa panjang di sebelah
whirpool.
Begitu masuk, Tante Nita lalu mengunci pintu, aku dan Cellia mengambil tempat duduk di
sofa sebelah whirpool. Aku melingkarkan lenganku ke pundak Cellia, alunan musik malam pun
semakin menambah romantis suasana.
“Cell…” bisikku mesra kepada Cellia mengawali percumbuanku.
Cellia yang sudah on berat itu langsung menyambut kecupanku, nafasnya terengah-engah,
menandakan bahwa dia sangat menginginkan kehangatan, kenikmatan dan mengisi kPrisongan
ruang vaginanya yang terasa menggelitik dan lembab. Dengan sedikit tergesa, aku melepas
celana dalamnya, lalu kurebahkan kepalanya di sandaran sisi sofa dan keletakkan pinggulnya
tepat diselangkanganku.
“Sreett…” penisku mulai bereaksi saat pantatnya yang dingin menyentuh Penisku dan kulihat
Cellia terpejam, sementara tangannya membetulkan rambutnya yang tergerai di sofa.
Aku mulai memainkan jari telunjukku di bibir luar vaginanya yang sudah mulai melelehkan
cairan bening dari hulunya. Tidak ketinggalan, bibirku menghisap dalam-dalam dan sesekali
kujepit putingnya dengan kedua bibirku lalu kutarik-tarik, sesekali kupilin-pilin dengan
kedua bibirku.
“Wuuuaahhh… ssshhh… terussshhh… nikkkmatthhh…” desah Cellia keras-keras saat kuperlakukan
seperti itu.
Tubuhnya kejang panas dan seluruh aliran darahnya kini memuncak. Sengaja aku tidak
memasukkan telunjukku, karena untuk menstimulasi lebih intens lagi. Kami bercumbu dan
sudah tidak ingat lagi apa yang dilakukan Nita di kamar mandi yang begitu lama.
“Bentar Cell.., Aku pispot dulu yach..?” kataku sambil melepaskan cumbuanku.
“Emmhhh…” desah Cellia sedikit kesal.
Akan tetapi, aku melihat Cellia melanjutkan birahinya dengan dua jari. Aku sendiri berlari
kecil menuju ke kamar kecil dan sesampai di pintu, aku kaget karena mendapati Tante Nita
lagi meregang orgasmenya.
“Aaakkkhhh… ssshhh… ssshhh…” desah Tante Nita, matanya mendelik merem melek.
Tampaknya vibrator mutiara itu masih bekerja, sehingga saat aku kencing, Nita pun tidak
melihatku.
“Royyy…” sebuah panggilan lembut mengagetkan aku saat hendak meninggalkan kamar mandi itu.
“I… iii.. yaaa… Tan..?” sahutku agak kaget.

“Sini dooonggg..! Hangatin vagina Nita dengan penis Kamu yang.., ookkhhh…” Tante Nita
terpekik saat vibrator itu ia cabut dari liang vaginanya.
Aku hampiri Tante Nita di Bath tub itu dan aku baringkan tubuhku disana.
“Oh.., nikmat sekali mandi air hangat dikelonin tante seksi ini.” bisikku dalam hati.
Aku rengkuh lehernya dan kuberikan french kiss yang begitu mesra dan Tante Nita pun
membalas dengan ganas seluruh rongga mulutku, leher dan kadang puting susuku di hisapnya.
Penisku yang terendam kehangatan air itu semakin maksimal saja. Selama tiga menit kami
bercumbu, Tante Nita nampaknya tidak dapat mengendalikan nafsunya.
“Mmmppphhh… oookkkhhh… setubuhi aku Roy..! Cepeeetthh..!” pinta Tante Nita sambil
menggeliat seperti cacing kepanasan.
“Baik.. Niiiiiiittt… Terima penisku yang panjaaanggg…” bisikku sambil memasukkan seluruh
batang penisku pelan sekali.
“Oohhh… mmmppphhh… nikmatthh…” gumannya saat batang kejantananku mili per mili mulai
menjejali rongga rahimnya.
“Kocokkhh.. yaacchhh… terussshhh… aaakhh… nimat bangeettthh..!” serunya ketika aku mulai
mengosok-gosok pelan penisku.
Aku keluarkan kira-kira empat senti, lalu kukocok lima atau enam kali dengan cepat dan
kusodokkan dalam-dalam pada kocokan ke tujuh. Rupanya usahaku tidak sia-sia untuk
menstimulasi G-spot-nya.
“Aaakkkhhh… ooohhh… nimatthhnyaa… oookkkhhh Godd..!” teriaknya mengawali detik-detik
orgasmenya.

Sepuluh detik kemudian, “Nnggghhh… aaakkkhhh… sshhhfff… ookkkhhh… Royy… kocokk… lebih
intens lagi Yannk..!” jerit Tante Nita diiringi geliat liar tubuh indahnya. Payudaranya
diremas-remasnya sendiri, sementara aku tetap berpegangan pada sisi bathtub sambil
mengocok lembut vaginanya.
“Akkhh…” teriakku pelan saat Tante Nita menggigit pundakku karena aku masih saja mengocok
penisku di vaginanya. Rupanya Nita sudah mulai ngilu.
Aku memeras tegang otot lenganku dan Tante Nita sepertinya minta time out untuk mengatur
nafas dan menghilangkan kengiluan di liang sengamanya. Aku meraih lehernya, lalu aku
berdiri pada dua lututku dan Tante Nita diam mengikuti apa yang akan kulakukan. Aku
memondong Nita dan tetap menjaga penisku tertanam dalam-dalam di vagina Tante Nita yang
mengapit kedua tungakainya ke pinggangku. Kami menghampiri Cellia yang juga lagi meregang
orgasmenya dan Cellia tampaknya lebih liar dari pada Nita, mungkin karena pengaruh XTC dan
suasana yang penuh hawa birahi itu.
“Aaaoookkkhhh… ssshhh… aaakkkhhh… aaakkkhhh…” jerit Cellia keras sambil menghujam-hujamkan
kedua jari kanannya.
Sementara tangan kirinya meremas dan memilin payudaranya dan sesekali ditekan serta
diputar. Aku terkesima sejenak dengan pemandangan yang diciptakan Cellia itu dan aku
mebayangkan akan lebih histeris lagi pasti jika yang keluar masuk itu adalah 15 cm penis
kebanggaanku.
“Booyy… ayyyoook terusinn..!” pinta Tante Nita diiringi goyangan lembut pinggulnya.
Ia tampaknya mulai bergairah kembali setelah melihat Cellia yang begitu histeris dan aku
pun demikian ketika penisku hampir mengendor di Vagina Nita. Aku maju selangkah dan
mendudukkan Tante Nita dari arah belakang sofa. Aku sendiri mengambil posisi berdiri untuk
memudahkan eksplorasiku. Di lain pihak, Cellia yang sudah mengakhiri masturbasinya itu
mengetahui kehadirna kami dan mengambil tempat di belakang Tante Nita.
“Ookkhhh… Terusin Cell..!” pinta Tante Nita saat Cellia menyibakkan rambutnya dan mulai
mencumbui leher Tante Nita.
Tidak ketinggalan, kedua telapak tangan Cellia menggoyang, memutar puting dan kadang-
kadang dipilin lembut. Aku sepertinya merasakan apa yang Tante Nita rasakan, darahnya
mulai hangat, birahinya sudah memanas. Tubuh Nita bagaikan daging burger di antara aku dan
Cellia, pinggulnya masih aktif menggoyang-goyang, kadang menghentak-hentak lembut.
“Oooaaakkkhhh… nngghhh… ohhhh… nngghhh… Kocok terushh… yaaa… iyaa… terusss..!” desah Tante
Nita keras saat aku tepat menstimulasi G-Spot-nya.
Nafasnya tersengal-sengal disela-sela lenguhan-lenguhan panjangnya, tubuh Tante Nita
menggeliat-geliat liar. Cellia masih aktif membantu Tante Nita menggapai surgawinya,
kecupan-kecupan di belakang tubuh, leher, pinggang dan tiba-tiba Tante Nita melenguh
panjang diiringi percepatan hentakan pinggulnya. Aku semakin penasaran saja apakah yang
dilakukan Cellia hingga Tante Nita tampak lebih histeris lagi dari yang tadi. Kuraba raba
punggung Nita sambil kukulum mesra bibirnya, tanganku mulai turun ke arah pantatnya,
kutekan kedua sisi bokongnya yang padat itu dan kuulir-ulir. Berawal dari situlah aku tahu
rupanya telunjuk dan bibir Cellia memainkan peran di lubang anus Tante Nita, telunjuknya
yang berlumur vaselin itu keluar masuk lembut di vagina Tante Nita.
“Oookkhhghh… Goddhh… Cell… truuusss… Yanng… oookkhhh, kontholll… akkhhh… sshhh…” ceracau
Tante Nita tidak beraturan, menjemput ambang orgasmenya.
Kedua lubang Tante Nita terasa pejal dan hangat. Aku malah semakin terangsang oleh
imajinasiku sendiri, aku lantas memeluk erat-erat Tante Nita saat ia mulai mengencangkan
lingkaran tangannya di tubuhku. Darahku juga mulai bergerak cepat menuju ke ujung syaraf
di kepalaku, kupingku tidak lagi menghiraukan lenguhan dan desahan-desahan Tante Nita.
“Oookkkhhh… Niiiiiiittthhh… nikmathhh… vaginamu… Akkhhh..!” desahku saat birahiku
kurasakan menjalar di seluruh tubuhku.
“Booyyy… Akuuu… mmmhhh… mauuu…” seru Tante Nita menyambut orgasmenya.
Tubuhnya menegang, wajahnya merah merona, menambah cantiknya Tante kesepian ini, sementara
bibirnya terkatup rapat.

“Sssebentar… Niiiiiittttt… Kita keluar bareng…” bisikku yang kuiringi tempo kocokanku
secara maksimal, yaitu kukeluarkan hampir sepanjang batangnya dan kubenamkan dalam-dalam
di rahimnya.
Rupanya darahku tidak bertahan lama di syaraf-syarafku, hingga berdesir kencang meluncur
melalui seluruh nadiku dan bermuara pada sebuah daging pejal di selangkanganku.
“Niiiiiiittt… Aku nyammmppaaiii… uuaaakkkhhh… aaakkhhh.., aakhhh..,” desahku sambi
memutar-mutar penisku yang tertanam maksimal di vagina Tante Nita, sehingga rambut-
rambutku yang disana juga menggelitik klitoris Tante Nita.
“Sseerrr… serrr…” kurasakan cairan Tante Nita mendahului orgasmeku, dan seditik kemudian,
aku dan Nita meregang nikmat.
Kami menjerit-jerit sensasional dan tidak khawatir orang lain mendengarnya. Tante Nita
histeris seperti orang kesetanan ketika telunjuk Cellia juga mempercepat kocokan di
anusnya.
“Aaakkkhhhggh…” desah kami bersamaan mengakhiri nikmat yang tiada tara tadi dan juga baru
kurasakan seumur hidupku.
Maniku meleleh di sela-sela pejalnya bnatang kejantananku yang masih manancap dalam di
rahim Tante Nita. Cellia tampaknya puas dengan hasil kerjanya, lalu ia memeluk Tante Nita
erat dan berbisik, “Enak khan Tannn..?”
Tante Nita sendiri sudah lemas dan terkulai di atara aku dan Cellia, aku mengecup mesra
Tante Nita dan beralih kepada Cellia untuk memberikan stimulan birahi dalam dirinya yang
juga mulai mendidih.
Kedua wanita itu memang hebat, yang tua histeris dan mampu menguasai diri dan yang muda
histeris juga dan menuruti jiwa mudanya yang bergejolak. Tante Nita tampaknya tidak dapat
menahan rasa di tubuhnya, sehingga lunglai lemas tidak bertenaga. Cellia lantas
membimbingnya melepas gigitan vaginanya dari penisku yang mulai mengendor ke arah ujung
sofa untuk beristirahat. Kulihat wajah Tante Nita amat puas bercampur dengan letih, akan
tetapi semua beban birahinya yang tertahan selama dua minggu meledak lah sudah.
“Ooookkkhh… sssshh…” desis Tante Nita saat penisku kutarik pelan dari gigitan vaginanya.
Aku melangkahi sofa dan duduk di sandarannya, lalu kubuka kedua pahaku. Tampaklah oleh
Cellia sebuah meriam yang berlumur sperma masih setengah tegak.
“Oookkkhhh… gellliii… ssshhh… terusssss… Ceeeelll..!” pintaku pada Cellia saat ia mulai
mengulum penisku dan hampir semuanya terkulum di mulutnya yang sedikit lebar namun seksi.
“Oaaakhhh…. aaakkkhh… sshhhssshshh…” desisku saat aku mulai merasakan lagi denyutan
penisku di mulutnya.
Cellia masih menghisap habis seluruh sperma yang tersisa dan kocokkannya semakin cepat,
hingga kedua kakiku bergetar menahan ngilu bercampur nikmat.
“Oookkkhhh… terusss… hisappphh Sayy..!” pintaku sambil mendorong kepala Cellia untuk
melakukan lebih dalam lagi.
“Oooouakghh.. Plop…” tiba-tiba mulut Cellia melepas kulumannya dan langsung berdiri
menjilat leher dan kedua telingaku bergantian.
“Aku ingin di whirpool Sayy..!” bisik Cellia.
Whirpool itu sendiri sudah dilengkapi semacam sofa untuk berbaring, sehingga jika
berbaring di situ, maka mulai dada sampai kaki akan terendam air hangat bercampur semburan
air di sisi-sisi kolamnya. Aku merebahkan Cellia disana dan memulai percumbuan kami, tubuh
kami terasa hangat dan seperti di pijat-pijat, sehingga penisku yang sempat layu mulai
menegang kembali. Cellia tampak menikmati sensasi ini dan aku tahu bahwa Cellia akan
menginginkan melodi yang berbeda dengan Nita.
“Masss… sshh… oookkkkhh… masukin Aku… oookkhhh… mmmppphh…” pinta Cellia sambil membuka
pahanya lebar-lebar.
Sejenak aku memainkan kehangatan air, kuayun-ayun tanganku di dalam air ke arah vagina
Cellia yang membuatnya segera menarik tubuhku untuk menaikinya. Kami memang sudah
diselimuti nafsu sehingga rasanya pemanasan Cellia melihat orgasme dari Tante Nita sudah
lebih dari cukup. Tubuh kami hangat oleh air dan kehangatan dari pasangan kami serta
semburan-semburan air dari sela-sela kolam membuat kami semakin terbuai jauh ke awang-
awang.

“Blesss…” 10 cm dari penisku mulai menjejali vagina Cellia diiringi desahan, “Aaakkkkhhh…
mmmppph…” guman Cellia yang membuat Tante Nita tersadar dan menyusul kami di kolam.
Kuhentakkan pelan, sehingga seluruh penisku mendesak dinding-dinding vaginanya yang terasa
lebih perat dan berdenyut. Nita mengambil posisi memangku kepala Cellia di paha kanannya
dan membelai lembut kening Cellia.
“Aaawww… oookkkhhh… gelli… Masssh…” teriak Cellia saat aku memainkan otot lelakiku di
leher rahimnya.
“Masss… dikocok pelaannn… yacch..!” pintanya sambil membelai rambutku, membuatku jadi
teringat saat-saat romantis dengan pacar-pacarku dulu.

Aku mengangguk dan kuikuti apa yang Cellia mau, lalu kukocok perlahan dengan cara sepuluh
senti aku kocok lima atau enam kali dan kubenamkan dalam-dalam, lalu kuputar pada kocokan
ke-7. Cara ini efektif untuk menstimulasi G-Spot seorang wanita. Kurang lebih lima menit
kemudian, Cellia mengangkat kepalanya dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di mulut dan
leherku bergantian. Tubuhnya sedikit menegang dan lebih hangat kurasa, lalu aku memberi
isyarat Tante Nita untuk menyingkir ke arah bagian belakang kami.
“Ooookhhh… Massshh.. aaakuuu… hammmppirr..!” bisik Cellia saat aku mulai menaikkan ritme
kocokanku.
“Tahan Cell..!” pintaku, lalu aku memberi isyarat kepada Tante Nita lagi.
“Akkkhhhgghhh… ssshhh… mmmpppphh…” desahku dan Cellia bersamaan saat telunjuk Tante Nita
mulai memasuki lubang pantatku dan anusnya Cellia.
Rasanya hangat mengelitik, apalagi jika di kocokkan di kedalaman anusku dan aku bisa
membayangkan sensasi yang dialami Cellia. Pasti akan terasa pejal dan nikmat serta
sensasional pada kedua lubangnya.
“Oookkkhhh… Taaan… aaaakk.. kuuu tak kuuu..atthh…” teriak Cellia mulai mengawali detik-
detik orgasmenya.
Para netters yang budiman, sudah bisa diduga, kami pun terbuai dengan alunan sensai jari
Tante Nita dan hisapan vagina Cellia bersamaan. Demikian pula Cellia. Panasnya penisku dan
gelitik telunjuk Tante Nita membuatnya lupa daratan.

“Aaaggghhh… oookkkhhh… oookkkhhh… aaakkkhhhg… mmmm.. ssshshhh.. awww… ssshhh…” ceracauku
dan Cellia tidak beraturan.

Dan kurang lebih sepuluh detik kemudian, aku dan Cellia meregang birahi yang dikenal
dengan nama orgasmus secara bersamaan. Aku memancarkan spermaku. Terasa lebih banyak dari
pada dengan Tante Nita dan aku juga merasakan aliran mani Cellia dari rahimnya. Aku
menghempaskan tubuhku ke samping Cellia dan Tante Nita mengambil tempat di sisi lainnya.
Hangat tubuh mereka dan kami becumbu seolah tiada hari esok. Kami lanjutkan tidur mesra
diapit dua tubuh sintal nan hangat berselimutkan sutra lembut. Dan saat salah satu dari
kami terjaga, kami mengulanginya lagi hingga spermaku betul-betul terasa kering.
Minggu siang, kami baru terbangun, lantas kami mandi bersama dan kemudian sarapan pagi.
Kami meluncur ke Surabaya dan janji akan kencan lagi entah dengan Tante Nita ataupun
Cellia atau kadang mereka minta barengan lagi. Aku akhirnya terlibat kisah asmara yang
penuh birahi, namun aku puas karena dapat melampiaskan nafsuku yang meletup-letup itu.-


Terimakasih Atas Kunjungan Anda.Jangan Lupa Selalu Berkunjung Kembali
supaya tidak ketinggalan Cerita cerita Dewasa Terbaru.

Jika Kamu Menyukai Postingan Ini, Share Ke Teman-Temanmu Di Facebook ya Pulsker!


CERITA SEX DEWASA | CERITA SEX TERBARUCERITA SEX HOT | NONTON BOKEP
Cerita Sex Terbaru Dua Tante Sexy Cerita Sex Terbaru Dua Tante Sexy Reviewed by Layar Lendir on Desember 10, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Bandar Sakong
Diberdayakan oleh Blogger.