Bandar Sakong

Cerita Sex Terbaru Godaan Janda Panas

Cerita Sex Terbaru Godaan Janda Panas

Cerita Sex Terbaru Godaan Janda Panas
www.LayarLendir.com

Majalah Bokep - Namaku Yudha, sungguh pengalamanku kali ini sangat konyol sekali dan sangat tak pernah aku
duga dan aku rencanakan. Semua seakan terjadi karena waktu yang tepat dan mungkin karena
keberuntungan yang berpihak kepadaku karena banyak yang mengejarnya namun tak ada satupun
yang diterimanya. Sebut saja namnya Cindy. Janda kembang sebelah rumah yang sangat
menggoda. Tubuhnya sangat seksi sekali, payudaranya montok, pantatnya yang bahenol,
dCindymbah dengan wajahnya yang sangat menggairahkan membuat orang-orang dikomplek tempat
tinggalku selalu mengejar-ngejar cintanya. Namun sayang dari semua yang mengejarnya tidak
ada yang bisa mendapatkannya.

Karena umurku yang masih muda, aku memanggilnya tante Cindy. Memang tante Cindy ini jika
dirumah dia selalu berpakaian sangat menarik. Dengan kaos strit dan rok pendek membuat
semua mata lelaki melihatnya. Meski sudah mempunyai satu anak, tubuh tante Cindy masih
sangat bahenol dan terawatt dengan kulitnya yang putih bersih. Tante Cindy mempunyai usaha
warung kecil-kecilan dan menyediakan kopi juga. Sehingga setiap malam warungnya selalu
dipenuhi oleh orang-orang tua yang betah memandangi tubuh seksi tante Cindy itu. Kalau aku
pas beli rokok diwarung tante Cindy, aku pun juga melirik tubuh bahenol tante Cindy,
sungguh menggoda sekali.
Hingga akhirnya suatu malam hujan turun sangat lebat sekali. Aku saat itu sedang santai
dikamar sambil dengerin music dan bermain game, teman game ku hanyalah rokok. Ketika aku
mengambil bungkus rokokku, ternyata isi rokokku sudah habis lalu dengan cepat aku melihat
jam. Dan waktu itu waktu menunjukkan jam 9 malam hujanpun sudah mukai reda, segera aku
mengambil uang dan segera berlari menuju ke warung tante Cindy. Setelah sampai diwrung
tante Cindy, terlihat warungnya sangat sepi sekali gak seperti biasanya yang sangat ramai
dengan pembeli. Mungkin karena hujan tadi jadi para mata keranjang yang biasa nongkrong di
warung Cindy pada males keluar. Dan aku panggil-panggil tante Cindy.
“Tante.., Tante.., Dik Krisna.., Dik Krisna”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi
seperti ini, kali saja lupa nutup warung.
Ah kucoba panggil sekali lagi, “Permisi.., Tante Cindy?”.
“Oh ya.., tungguu”, Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.

Yang keluar ternyata Tante Cindy, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di dada, jalan
tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang kelihatannya baru selesai
mandi juga habis keramas.

“Oh.., maaf Tante, Saya mau mengganggu nich.., Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho
Dik Krisna mana?
“O.., Krisna sedang dibawa ama kakeknya.., katanya kangen ama cucu.., maaf ya Mas Yudha
Tante pake’ pakaian kayak gini.. baru habis mandi sich”.

“Tidak apa-apa kok Tante, sekilas mataku melihat badan yang lain yang tidak terbungkus
handuk.., putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali ini aku lihat sebagian besar
tubuh Tante Cindy, soalnya biasanya Tante Cindy selalu pakai baju kebaya. Dan lagi aku
baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Cindy tidak
memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.

“Malam gini kok belum tutup Tante..??”
“Iya Mas Yudha, ini juga Tante mau tutup, tapi mo pakek pakaian dulu?
“Oh biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian”, kataku. Masuklah aku ke dalam
warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.

“Wah ngerepoti Mas Yudha kata Tante Cindy.., sini biar Tante ikut bantu juga”. Warung
sudah tertutup, kini aku pulang lewat belakang saja.
“Trimakasih lho Mas Yudha..?”.
“Sama-sama..”kataku.
“Tante saya lewat belakang saja”.

Saat aku dan Tante Cindy berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku menubruk
tante, tanpa diduga handuk penutup yang ujung handuk dilepit di dadanya terlepas, dan
Tante Cindy terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda saja. Tante Cindy menjerit
sambil secara reflek memelukku.
“Mas Yudha.., tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Tante”, kata tante
dengan muka merah padam. Aku jongkok mengambil handuk tante yang jatuh, saat tanganku
mengambil handuk, kini di depanku persis ada pemandangan yang sangat indah, celana dalam
merah muda, dengan background hCindym rambut-rambut halus di sekCindyr vaginanya yang
tercium harum. Kemudian aku cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh tante dengan handuk
yang jatuh tadi. Tapi ketika aku mau melilitkan handuk tanpa kusadari Penisku yang sudah
bangun sejak tadi menyentuh tante.
“Mas Yudha.., Penisnya bangun ya..?”.
“Iya Tante.., ah jadi malu Saya.., habis Saya lihat Tante seperti ini mana harum lagi,
jadi nafsu Saya Tante..”.
“Ah tidak apa-apa kok Mas Yudha itu wajar..”.
“Eh ngomong-ngomong Mas Yudha kapan mo nikah..?”.
“Ah belum terpikir Tante..”.
“Yah.., kalau mau nikah harus siap lahir batin lho.., jangan kayak mantan suami Tante..,
tidak bertanggung jawab kepada keluarga.., nah akibatnya sekarang Tante harus bersetatus
janda. Gini tidak enaknya jadi janda, malu.., tapi ada yang lebih menyiksa Mas Yudha..
kebutuhan batin..”.
“Oh ya Tante.., terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu..”, tanyaku usil.

“Yah.., Tante tahan-tahan saja..”.
Kasihan.., batinku.., andaikan.., andaikan.., aku diijinkan biar memenuhi kebutuhan batin
Tante Cindy.., ough.., pikiranku tambah usil.
Waktu itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya tante juga memperhatikan.
“Mas Yudha Penisnya masih bangun ya..?”.
Aku cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Tante Cindy meraba
Penisku.
“Wow besar juga Penismu, Mas Yudha.., Penisnya sudah pernah ketemu sarangnya belom..?”.
“Belum..!!”, jawabku bohong sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan
yang sudah lama tidak pernah kurasakan.

“Mas.., boleh dong Tante ngeliatin Penismu bentarr saja..?”, belum sempat aku menjawab,
Tante Cindy sudah menarik sarungku, praktis tinggal celana dalamku yang tertinggal plus
kaos oblong.
“Oh.., sampe’ keluar gini Mas..?”.
“Iya emang kalau Penisku lagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam, Aku sendiri
tidak tahu persis berapa panjang Penisku..?”, kataku sambil terus menikmati kocokan tangan
Tante Cindy.
“Wah.., Tante yakin, yang nanti jadi istri Mas Yudha pasti bakal seneng dapet suami kaya
Mas Yudha..”, kata tante sambil terus mengocok Penisku. Oughh.., nikmat sekali dikocok
tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat,
tanpa aku tahu, Tante Cindy sudah melepaskan lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu aku
tahu karena Penisku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tidak
terlalu besar itu.
“Ough.., Tante.., nikmat Tante.., ough..”, desahku sambil bersandar memegangi dinding rak
dagangan, kali ini tante memasukkan Penisku ke bibirnya yang kecil, dengan buasnya dia
keluar-masukkan Penisku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot.., ough.., seperti terbang
rasanya. Kadang-kadang juga dia sedot habis buah salak yang dua itu.., ough.., sesshh.

Aku kaget, tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, dia pegangi Penisku sambil berjalan
ke meja dagangan yang agak ke sudut, Tante Cindy naik sambil nungging di atas meja
membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku kini.

“Mas Yudha.., berbuatlah sesukamu.., cepet Mas.., cepet..!”.

Tanpa basa-basi lagi aku tarik celana dalamnya selutut.., woow.., pemandangan begini
indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu banyak. Aku jadi tidak percaya kalau
Tante Cindy sudah punya anak, aku langsung saja mejilat vaginanya, harum, dan ada lendir
asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Aku lahap rakus vagina tante, aku mainkan
lidahku di clitorisnya, sesekali aku masukkan lidahku ke lubang vaginanya.
“Ough Mas.., ough..”, desah tante sambil memegangi susunya sendiri.
“Terus Mas.., Maas..”, aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu aku masukkan lidahku
ke dalam vaginanya, ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.
Kemudian Tante Cindy membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk
ke atas.

“Ayo Mas Yudha.., Tante sudah tidak tahan.., mana Penismu Mas.. Penismu sudah pengin ke
sarangnya.., wowww.., Mas Yudha.., Penis Mas Yudha kalau bangun dongak ke atas ya..?”. Aku
hampir tidak dengar komentar Tante Cindy soal Penisku, aku melihat pemandangan demikian
menantang, vagina dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian
terlihat mengkilat, aku langsung tancapkan Penisku dibibir vaginanya.

“Aughh..”, teriak tante.
“Kenapa Tante..?”, tanyaku kaget.
“Udahlah Mas.., teruskan.., teruskan..”, aku masukkan kepala Penisku di vaginanya, sempit
sekali.
“Tante.., sempit sekali Tante.?”.
“Tidak apa-apa Mas.., terus saja.., soalnya sudah lama sich Tante tidak ginian.., ntar
juga nikmat..”.
Yah.., aku paksakan sedikit demi sedikit.., baru setengah dari Penisku amblas.., Tante
Cindy sudah seperti cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari.
“Augh.., Mas.., ouh.., Mas.., nikmat Mas.., terus Mas.., oughh..”.

Begitu juga aku.., walaupun Penisku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi sedotannya
oughh luar biasa.., nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Kali ini Penisku
sudah amblas dimakan vagina Tante Cindy. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante
Cindy. Tiba-tiba tante terduduk sambil memelukku, mencakarku.

“Oughh Mas.., ough.., luar biasa.., oughh.., Mas Yudha..”, katanya sambil merem-melek.
“Kayaknya ini yang namanya orgasme.., ough..”, Penisku tetap di vagina Tante Cindy.
“Mas Yudha sudah mau keluar ya..?”. Aku menggeleng. Kemudian Tante Cindy telentang
kembali, aku seperti kesetanan menggerakkan badaku maju mundur, aku melirik susunya yang
bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk dan kucium putingnya yang coklat kemerahan.
Tante Cindy semakin mendesah, “Ough.., Mas..”, tiba-tiba Tante Cindy memelukku sedikit
agak mencakar punggungku.

“Oughh Mas.., aku keluar lagi..”, kemudian dari kewanitaannya aku rasakan semakin licin
dan semakin besar, tapi denyutannya semakin terasa, aku dibuat terbang rasanya. Ach
rasanya aku sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante Cindy.
“Tante.., Aku keluarin dimana Tante..?, di dalam boleh nggak..?”.
“Terrsseerraah..”, desah Tante Cindy. Ough.., aku percepat gerakanku, Penisku berdenyut
keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh Penisku. Akhirnya semua terasa enteng,
badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya spermaku aku
muntahkan dalam vagina Tante Cindy, masih aku gerakkan badanku rupanya kali ini Tante
Cindy orgasme kembali, dia gigit dadaku.
“Mas Yudha.., Mas Yudha.., hebat Kamu Mas”.

Aku kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Tante Cindy masih tetap telanjang
telentang di atas meja.

“Mas Yudha.., kalau mau beli rokok lagi yah.., jam-jam begini saja ya.., nah kalau sudah
tutup digedor saja.., tidak apa-apa.., malah kalau tidak digedor Tante jadi marah..”, kata
tante menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya yang masih nampak bengkak.

“Tante ingin Mas Yudha sering bantuin Tante tutup warung”, kata tante sambil tersenyum
genit. Lalu aku pulang.., baru terasa lemas sakali badanku, tapi itu tidak berarti sama
sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat. Keesokan harinya ketika aku hendak
berangkat ke kantor, saat di depan warung Tante Cindy, aku di panggil tante.

“Rokoknya sudah habis ya.., ntar malem beli lagi ya..?”, katanya penuh pengharapan,
padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, tapi mereka tidak tahu apa maksud perkataan Tante
Cindy tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian kemarin malam.-


Terimakasih Atas Kunjungan Anda.Jangan Lupa Selalu Berkunjung Kembali
supaya tidak ketinggalan Cerita cerita Dewasa Terbaru.

Jika Kamu Menyukai Postingan Ini, Share Ke Teman-Temanmu Di Facebook ya Pulsker!


CERITA SEX DEWASA | CERITA SEX TERBARUCERITA SEX HOT | NONTON BOKEP
Cerita Sex Terbaru Godaan Janda Panas Cerita Sex Terbaru Godaan Janda Panas Reviewed by Layar Lendir on April 22, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Bandar Sakong
Diberdayakan oleh Blogger.